Senin, 30 November 2009

STANDARISASI PENGOLAHAN SAMPAH DAN PEMBUATAN EM







`STANDARISASI SISTEM PEMBUATAN EFFECTIVE MICROORGANISME TARUNA RIMBAWAN AFC INDONESIA MEMBUAT BIOAKTIVATOR PENGOLAH SAMPAH YANG DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI PUPUK CAIR
SEKALA RUMAH TANGGA DAN SEKOLAH


Bioaktivator

Setidaknya dikenal 80 marga mikroba fermentasi, dikenal lima kelompok utama : Bakteri fotosintetik, laktobasilus streptomices, ragi ( yeast ), dan Actinomycetes.

Berfungsi dalam proses Fermentasi dan dekomposisi bahan organik



1. Memperbaiki sifat fisik, Kimia, dan biologi tanah
2. penyedia unsur hara
3. menyehatkan tanaman, mempertinggi dan menstabilkan produksi



Manfaat

1. Mempercepat dekomposisi sampah organik
2. Memproduksi



Bahan dan alat

1. sampah organik/basah/dapur
2. cacahan batang pisang
3. gula
4. air tawar ( bukan PAM )
5. Air cucian beras
6. Ragi
7. Ember bertutup
8. karung plastik tembus air
9. Bioaktivator



Cara Membuat

Dibuat larutan Bioaktivator, air 60 : EM 1:Molase 1,15 liter air:1/4 liter molase



  1. 1. larutan yang dihasilkan ditampung didalam ember bertutup
  2. 2. sampah dapur dicincang, kemudian dimasukan kedalam larutan EM
  3. 3. atau sampah dapur dicincang,kemudian dimasukan kedalam karung plastik tembus air, kemudian selanjutnya dimasukan kedalam larutan sampai seluruh karung terendam
  4. 4. Ember tertutup rapat, ditindih dengan batu sebagai penguat, ditempatkan ditempat sejuk, simpan selam 10 hari
  5. 5. jika sampah dimasukan setiap hari,mulut karung ditempatkan di bibir ember, kemudian ditutup, dilakukan pengadukan setiap hari
  6. 6. apabila sampah sudah penuh karung diikat, kemudian ditimpa dengan pemberat sehingga sampah terendam, ember ditutup rapat, simpan ditempat sejuk selama 7 hari



Pemanenan dan Pemanfaatan



Karung sampah diangkat kemudian ditiriskan diatas ember, setelah tiris sampah di angin – anginkan

Sampah peraman dapat dimanpatkan :

  1. 1. untuk pupuk, dengan cara memasukan sampah tersebut disekitar pangkal tanaman kemudian ditutup tanah
  2. 2. dicampurkan pada sampah lain untuk mempercepat proses pengomposan apabila dimanfaatkan sebagai pupuk cair, perlu proses lanjutan sebagai berikut :



Cairan ditampung dalam ember tertutup, disimpan selama 30 Hari, setiap hari di aduk, apabila selama penyimpanan muncul bau tidak sedap, diperlukan pemberian molase, ember plastik dibuka selama 7 hari dan setiap hari dilakukan pengadukan cairan/larutan disaring, selanjutnya disterilkan melalui pemanasan di atas api kecil sampai hilang buih, sebagai pupuk cair, cairan/larutan perendaman di encerkan sampai 100 kali ( 1 lt larutan + 100 lt air ). Diberikan sebagai pupuk tanah atau pupuk daun. Untuk starter pembuatan kompos sesuai dengan aturan penggunaan yang akan diterangkan berikut



Apa yang terkandung dalam cairan ini?.



Effective microorganisme adalah kultur campuran dari mikro organisme yang menguntungkan dan berasal dari alam Indonesia, terdiri dari Bakteri asam laktat (Lactobacilus spp,), bakteri fotosintetik (Rhodopseudomos Spp) Actinomycetes, Streptomyces dan ragi yang bermanfaat untuk pertanian, peternakan, perikanan, tambak, limbah industri, pengolahan limbah domestik/ sampah rumah tangga dan yang sejenis sampah rumah tangga dan kesehatan lingkungan. Cairan microorganisme ini tidak berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lainnya dan aman bagi lingkungan.





Sampah adalah limbah yang timbul akibat aktifitas manusia yang terjadi sepanjang hidup. Sampah merupakan masalah yang sulit dipecahkan pengurangannya, apabila diserahkan kepada satu kelompok atau organisasi masyarakat tertentu, karena setiap individu manusia memproduksi sampah sepanjang hidupnya yang akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan tingkat serta pola konsumsi masyarakat. Dengan tehnologi yang berbasis sistem 3 R ( Reduce, Reuse dan Recycle) maka sampah akan menjadi berkurang timbulannya bahkan hasil pengolahannya akan bermanfaat bagi penyehatan lahan dan tanaman. Penggunaan microorganisme ini dapat mempercepat dekomposisi sampah organik menjaadi kompos dan membunuh bakteri patogen yang dihasilkan oleh sampah pada saat proses fermentasi berlangsung.



K O M P O S T I N G


Adalah Hasil dekomposisi sampah organic yang tidak dapat diuraikan lagi (stabil)

merupakan upaya pengurangan sampah organik melalui proses/ pengolahan

Tujuan Komposting :

1. Mengubah bahan organik yang biodegradable menjadi bahan yang stabile

2. Membunuh mikroba pathogen, telur insect & organisme lain

3. Menyediakan nutrient yang cukup untuk menunjang kesuburan tanah / tanaman


Tahapan :

1. Pra processing : sortasi, perajangan

2. Dekomposisi bahan organik (mikroba)

pengeraman, pembalikan

3. Packing, marketing


Tahapan pembuatan kompos

· Pemilahan Sampah Sampah yang dikumpulkan di TPA pada umumnya bercampur antara bahan-bahan organik maupun non organik sehingga pemilahan perlu dilakukan secara teliti untuk mendapatkan bahan organik yang dapat dikomposkan seperti dauan-daunan, sisa makanan, sayuran dan buah-buahan



· Pencacahan
Sampah organik yang telah terkumpul dicacah dengan ukuran 3-4 cm. Pencacahan dilakukan untuk mempercepat proses pembusukan karena pencampuran dengan bahan baku yang lain seperti kotoran ternak dan EM-4 menjadi rata sehingga mikroorganisme akan bekerja serana efektif dalam proses fermentasi.

l Pencampuran Bahan Baku

lSampah yang sudah dicacah dideder di tempat yang telah disediakan kemudian dicampur dengan kotoran ternak.

lPencampuran/pengadukan dilakukan secara merata kemudian dicampurkan pula campuran EM-4, di atas campuran sampah dan kotoran ternak.

lPencampuran dilakukan sekali lagi agar seluruh bahan bercampur secara merata.

lKomposisi bahan-bahan ini adalah sampah cacahan (1,3 m3), EM-4 (375 ml), kotoran ternak kering (1/5 dari sampah cacahan).

Penumpukan Bahan Baku
lSetelah dilakukan pencampuran secara merata kemudian dilakukan penumpukan dengan ketentuan tinggi 1,5 m, lebar 1,75 m dan panjang 2 m.
Penumpukan dapat dilakukan dengan model trapesium, gunungan maupun pesegi panjang.

Dalam tumpukan inilah terjadi proses fermentasi sampah organik menjadi kompos.


Pemantauan

Dalam masa penumpukan akan terjadi peningkatan suhu sebagai akibat proses fermentasi.

Hari pertama sampai kelima suhu biasanya mencapai 65° C atau lebih. Hal ini berguna untuk membunuh bakteri yang tidak dibutuhkan dan melunakkan bahan.

Pada hari keenam dan seterusnya suhu dijaga antara 40-50° C dengan kelembaban lebih kurang 50 %.

Suhu dan kelembaban dapat dipertahankan dengan perlakuan antara lain penyiraman dan pembalikan tumpukan.


Pematangan

Pengkomposan berjalan dengan baik dengan suhu rata-rata dalam bahan menurun dan bahan telah lapuk dan berubah warna menjadi coklat kehitaman. Tujuan pematangan untuk menjamin kompos benar-benar aman bagi konsumen.

Pengeringan
Setelah usia tumpukan mencapai usia 21 hari/3 minggu, maka sampah organik sudah menjadi kompos.

Selanjutnya dilakukan pembongkaran untuk dikeringkan/dijemur.

Pengeringan dapat dilakukan selama lebih kurang 1 minggu sampai kadar air kira-kira mencapai 20-25%.

Aerator rotari


Penggilingan dan Pengayakan
Proses selanjutnya adalah dilakukan penggilingan terhadap kompos yang sudah kering. Untuk mendapatkan butiran-butiran kompos yang siap untuk dikemas dilakukan pengayakan sesuai dengan kebutuhan.

Dari segi teknologi
Teknik pembuatan kompos sangat beragam, mulai dari proses yang mudah dengan menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan proses yang canggih dengan peralatan modern.

Secara teknis, pembuatan kompos dapat dilakukan secara manual sehingga modal yang dibutuhkan relatif murah atau secara masinal (padat modal) untuk mengejar skala produksi yang tinggi.


Dari segi ekonomi

Pengkomposan dapat mengurangi jumlah sampah sehingga akan mengurangi biaya operasinal pemusnahan sampah.

Tempat pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama, karena sampah yang dikumpulkan berkurang. Dengan demikian akan menguragi investasi lahan TPA.

Kompos dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini berarti kompos memiliki nilai kompetetif dan ekonomis yang berarti kompos dapat dijual.

Penggunaan pupuk anorganik dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan efisiensi penngunaannya.


Dari segi ekologi

Pengkomposan merupakan metode daur ulang yang alamiah dan mengembalikan bahan organik ke dalam siklus biologis. Kebutuhan energi dan bahan makanan yang diambil tumbuhan dari dalam tanah dikembalikan lagi ke dalam tanah.

Mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah yang dibakar, yang dibuang ke sungai ataupun yang dikumpulkan di TPA akan berkurang. Ini berarti mengurangi pencemaran udara maupun air tanah.

Pemakaian kompos pada lahan perkebunan atau pertanian akan meningkatkan kemampuan lahan dalam menahan air sehingga terjadi koservasi air. Kompos mempuyai kemampuan memperbaiki dan meningkatkan kondisi kesuburan tanah (konservasi tanah).


Dari segi sosial, manfaat sosial

Dapat membuka lapangan kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran.

Dapat dijadikan obyek pembelajaran lingkungan baik bagi masyarakat maupun dunia pendidikan

Dari segi kesehatan

Pengurangan tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Proses pengkomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.





METODE PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIC
Pengolahan sampah organic dapat dilakukan dengan dua pola :

1. Aerob
2. Anaerob


  1. Pola pengolahan aerob adalah sistem pengolahan yang dilakukan dengan bertumpu pada sirkulasi udara selain fermentasi (dekomposisi). Pola ini membutuhkan tempat yang relatif besar dan perlu proses pembalikan, agar proses dekomposisi terjadi dengan merata. Namun untuk sekala rumah tangga, dapat dilakukan dengan cara membuat bak sampah berpori tanpa lapisan semen. Pada susunan bata yang digunakan untuk membuat bak sampah di buat lubang lubang udara dan diberi atap agar tidak terkena panas dan air hujan langsung.


Bila tidak memiliki ruangan yang cukup luas, maka dapat dibuat tong plastik ukuran 250 liter yang diberi lubang udara sirkulasi dengan pemutar yang dapat mempermudah proses pembalikan dan pengadukan. Tong dapat diletakan diluar dan dapat digunakan hingga 5 keluarga kecil ( rumah ) untuk waktu kurang lebih 3 bulan.


Dapat pula kita gunakan sistem keranjang TAKAKURA bertutup yang dimodifikasi sebagai alat komposting aeraob dengan cara membuat dua bantal yang berisi kompos matang/ sekam matang seukuran dasar keranjang dan sampah organic dapat dikomposting diatasnya, namun pemotongan sampah organic untuk semua jenis pengolahan tetap harus dilakukan, agar proses pembusukan berlangsung cepat. Bagian atas ditutup bantal sekam matang. Pada setiap kali penambahan sampah organic, seyogyanya diaduk dahulu, agar proses homogenisasi dan pengontrolan suhu lebih mudah.



Suhu yang dihasilkan antara 60 hingga 70 derajat celcius, pada suhu inilah bakteri patogen akan mati. Lama proses pengomposan antara 30 hingga 60 hari. Kelebihan sistem aerob, pada saat proses fermentasi sampah tidak menghasilkan BOD, tapi proses pembalikan dan pengadukan adalah hal penting yang harus dilakukan.



Untuk sekala komunal, pengolahan sampah organic dilakukan dengan cara pembuata bedenga pale dengan ukuran 0,5X1,5X2,5 m2 ( TXLXP ) yang dibuat dari papan dengan ketebalan papan antara 3 hingga 5 cm.



Sampah yang sudah dicacah kemudian dicetak dan dipadatkan didalam cetakan pale. Proses pembalikan setiap 3 hingga 4 hari sekali, suhu pada hari pertama dapat mencapai 70 derajat celcius.

2. Pola anaerob adalah pola tertutup yang mengunakan media tertutup, baik dengan cara menutup sampah organic dengan terpal atau dengan cara memasukan kedalam tong komposter berlapis.

Pola anaerob biasanya digunakan untuk pembuatan pupuk cair atau starter kompos sendiri, pola ini tidak jauh berbeda dengan pola aerob, hanya saja dibutuhkan tempat yang cukup besar.

Untuk pola anaerob, sampah organic disarankan dipotong lebih kecil dan dicampur kapur sebagai buffer pada saat pertama melakukan komposting. Pada pola anaerob suhu yang dihasilkan sekitar 55 – 65 derajat celcius, pola ini dapat mencampurkan semua jenis sampah termasuk sampah yang mengandung protein hewani seperti tulang ikan, ayam, kerbau dan lain-lain. Kadar air yang dihasilkan 50% lebih dan komposnya lebih tinggi kadar N.

Kelemahan pola ini, proses komposting menghasilkan BOD, dan kematangan kompos dalam jangka waktu hingga 6 bulan. Akan tetapi sistem anaerob dengan sistem penyaringan ( Kompos cair ) lebih praktis dan kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai starter ( EM) kompos atau dapat dijadikan kompos cair penyiram batang dan daun tanaman dan dapat digunakan memfermentasi organic dalam septictank sehingga kotoran tidak menumpuk dan penggunaan septictank lebiha lama.


TPA GALUGA, SUMBER MALAPETAKA LAHAN PERTANIAN
DAN SUMBER KONFLIK YANG TIDAK BERKESUDAHAN





BAGAIMANAKAH CARA MEMBUAT KOMPOS YANG MEMENUHI STANDAR KEBUTUHAN PERTANIAN ( TANAMAN ) ?

Dibawah ini kita akan coba pelajari bagaimana cara membuat kompos yang seimbang dan memenuhi standar kebutuhan pertumbuhan tanaman, baik akar, batang, daun ataupun buahnya dan kita coba uraikan secara sederhan pemanfaatan effective microorganisme untuk peternakan, tambak dan penetralisir limbah industri.

Pembuatan kompos padat yang memenuhi standar kebutuhan tanaman adalah dengan cara mencampurkan tai gergaji, dedak/bekatul, pupuk kandang dan sampah organik pada proses fermentasi.

Untuk proses pada pengolahan komunal, pencampuran sebaiknya dibuat berlapis pada saat proses fermentasi mulai dilakukan dengan menempatkan sampah organic, kemudian pupuk kandang, kemudian tai gergaji dan dedak pada lapisan berikutnya sampah organic dan pada lapisan paling atas adalah sampah organic.

Scema diatas menunjukan proses pembuatan pupuk organic padat seimbang yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan tanaman dan dapat menjadi pengganti pupuk non organic yang selama ini digunkan didunia pertanian. Bagaimanakah cara membuatnya?


Bahan Baku

Siapkan bahan baku yang dibutuhkan, yang terdiri dari :

300 Kg Pupuk kandang

100 Kg Dedak atau bekatul

600 Kg Sekam/jerami/ daun daunan/ tai gergaji ( Sampah organic )

¼ Kg Gula merah( Aren )/ putih atau molase 1 liter

50 – 100 Liter air ( Gunakan air secukupnya, untuk mempertahankan suhu kompos dan kadar air tetap antara 30 – 40%)


Cara membuat pupuk organic seimbang :

  1. 1. Larutkan EM dan gula ke dalam air. Aduk perlahan searah jarum jam hingga merata.
  2. 2. Pupuk kandang, sekam matang atau jerami/ tai gergaji dan sampah organic yang sudah dipotong kecil-kecil ( dicacah ) serta dedak diaduk secara merata.
  3. 3. Siramkan larutan EM secara perlahan ke dalam adonan secara merata hingga kandungan air mencapai sekitar 30%.
  4. 4. Adonan ( bahan baku kompos ) dicetak menggunakan pale dengan ukuran 0,5 x 1,5 x 2,5. Adonan diaduk dan dibalik balik setiap tiga hari sekali agar suhu tetap stabile, bila meninggi panasnya maka siram kembali dengan menggunakan cairan EM dan Molase. Adonan diletakan diatas ubin semen atau dimasukan kedalam tong komposter putar. Untuk sekala perumahan, hal ini memudahkan pembalikan, pengadukan dan penyempurnaan sistem fermentasi, sehingga hasil akhir dapat sempurna.
  5. 5. Pertahankan suhu agar tidak lebih dari 50 derajat celcius, hal ini dimaksudkan agar kompos tidak rusak. Pengecekan dilakukan setiap hari menggunakan termometer air raksa.
  6. 6. Setelah tiga minggu atau 21 hari, kompos sudah dapat digunakan sebagai pupuk padat organic yang seimbang.


CARA PEMBUATAN PUPUK CAIR SEIMBANG DENGAN MENGGUNAKAN EFFECTIVE MICROORGANISME

Sebelum kami terangkan lebih lanjut, mari kita lihat tabel atau schema pembuatan kompos cair seimbang yang dapat digunakan sebagai pupuk daun, batang dan akar tanaman.

Pupuk cair memiliki kelebihan cepat diserap oleh tanaman pada saat proses fotosintesa dan cepat pula berdampak pada cepat dan sehatnya pertumbuhan tanaman.

Secara sepintas, dapat kita lihat, bahwa pembuatan pupuk cair seimbang berbasis EM sangatlah sederhana dan mudah dilakukan. Apabila tong akan digunakan sebagai komposter pengolah limbah rumah tangga, pencampuran EM dilakukan setiap kali akan ditambah sampah organic. Apabila tong kompster mengeluarkan BOD, tambahkan air gula secukupnya dan yang perlu diingat, sampah organic yang dimasukan seharusnya sudah dipotong kecil-kecil seukuran 0,5 hingga 1 cm.

Bagaimanakah penjelasan teknis pembuatan pupuk cair seimbang ini ?

Mari kita siapkan tong plastik dengan kapasitas 250 liter. Kita lubangi sebesar 12 inch skeliling tong sebagai sirkulator udara, dan tutup dengan kain kasa atau kawat nyamuk, agar tidak dimasuki insect dan bersarang di dalam air komposter. Beri lubang kran palstik, dan bagian belakang kran ditutup kawat nyamuk

Setelah itu siapkanlah bahan bahan berikut :

1 Liter Effective Microorganisme

¼ Kg Gula yang dicairkan dengan 1 liter air atau molase 1 liter

30 Kg Pupuk kandang

20 Kg Dedak/ bekatul

50 Kg sampah organic

150 Liter air sumur

1 ons Ragi

Cara membuatnya

1. Isi drum/ tong dengan air tanah sebanyak 75 liter.

2. Pada tempat terpisah, larutkan molase 1 liter atau gula 250 gram ke dalam 1 liter air tanah/ sumur, larutkan Ragi, yeast dan campurkan kedalam air dalam drum.

3. Masukan molase/ air gula yang dicampur dengan EM ke dalam drum dan aduk perlahan searah jarum jam sampai merata.

4. Masukan pupuk kandang, campurkan bahan baku sampah organic dan dedak/ bekatul sambil diaduk sampai rata.

5. Tambahkan air tanah/ sumur sampai genap 150 liter dan drum tutup rapat-rapat.

6. Lakukan pengadukan secara perlahan setiap pagi selama fermentasi awal berlangsung ( cukup 5 kali putaran ), setela diaduk biarkan air larutan bergerak tenang lalu drum kembali ditutup.

7. Setelah 14 hari, maka pupuk cair siap di sterilisasi. Bila terdapat bau busuk, maka tambahkan air gula/molase dan saring pupuk cair untuk ditempatkan kedalam jerigen hingga gas hilang atau sekitar 7 hari. Setelah tercium bau cuka atau bau asam manis, maka cairan pupuk cair seimbang siap digunakan.

8. Apabila akan dijadikan komposter pemeroses sampah organik, maka setelah 14 hari, sampah organic mulai dapat ditambahkan, tapi sampah harus dirajang lebih dahulu, kemudian disemprotkan EM baru kemudian dimasukan kedalam drum.



Cara penggunaan.

1. Untuk 1 liter pupuk cair seimbang dicampur dengan 100 liter air tanah.
2. Dosis penggunaan untuk tanaman sayuran 250 ml dicampur air 10 liter disiramkan setiap 1 minggu sekali.
3. Dosis untuk tanaman buah dan tanaman kayu-kayuan 5 EM: 10 liter air. Dilakuakn setiap seminggu sekali. Untuk menyiram dahan dan daun dosis 1 liter EM :100 liter air. Pada saat tanaman sudah berbuah, penyiraman hanya dilakukan pada batang dan dahan.




PEMBERANTASAN HAMA TANAMAN DAN PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIC

Tanaman yang menggunakan kompos atau pupuk organic secara umum tahan terhadap berbagai penyakit, baik penyakit akar, daun, batang dan buah. Tapi apabila terjadi kerusakan tanaman akibat hama, maka kita siapkan pembuatan pestisida organic yang dapat kita buat sendiri.

Bagaimanakah cara membuat pestisida organic ?

Dalam sejarah pertanian tradisional Indonesia, sebenarnya telah dikenal sejak lama pestisida yang dibuat secara alami. Perlakuan terhadap tanaman secara tradisional sudah mulai kita tinggalkan sejak lama atau sekita tahun 70-an, maka setelah era nonorganic berlangsung, maka sistem pertanian tradisional kita sudah mulai punah dan tidak pernah dilakukan, bahkan tidak dikenal pada saat ini.

Sebelum kita mulai membuat pestisida organic, mari kita siapkan bahan bakunya sebagai berikut :

* Effective Microorganisme sebanyak 100 ml
* Molase sebanyak 100 ml atau ½ ons gula
* Alkohol kadar 40%
* Cuka makan/ Cuka aren 100 ml
* Air cucian beras yang pertama 100 ml
* Jahe, lengkuas, kencur, kunyit, temu lawak, temugiring masing-masing 1 jari jempol tangan
* Sereh 2 batang
* Bawang putih 10 siung besar
* Bawang merah 5 siung besar
* Daun mindi atau nimba 2 ons
* Brotowali/antawali 10 cm
* Yeast/ Ragi 1 butir


Cara membuatnya

Hancurkan bahan bahan rempah rempah diatas dengan menggunakan penumbuk atau blender. Untuk membantu proses penghancuran dengan blender, gunakan air cucian beras yang pertama. Setelah semua bahan rempah hancur, masukan kedalam botol atau jrigen termasuk ampasnya. Masukan pula bahan-bahan yang lain secara berurutan dimulai dari cuka makan/ cuka aren, alkohol 40%, molase/ air gula dan terakhir larutan EM. Kocoklah hingga merata dan warna larutan terlihat sama.

Bukalah tutup botol untuk membebaskan gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi. Simpanlah jrigen di tempat yang memiliki suhu yang perubahannya tidak ekstrim, agar proses fermentasi cepat terjadi dan microorganisme yang dibutuhkan maupun perubahan kimiawi proses fermentasi tidak rusak.

Proses ini berlangsung selama 15 hari, pengocokan dilakukan setiap hari pada waktu pagi dan sore. Kemudian diamkan tanpa pengocokan selama 7 hari, maka pestisida organic sudah dapat digunakan.


Berapaka Dosis yang dibutuhkan?

Pestisida Organic ( PORG ) digunakan dengan perbandingan 1 ml PORG : 1 liter air tanah. Disemprotkan pada pagi atau sore hari, namun dianjurkna penyiraman dilakukan pada sore hari, hal ini dilakukan mengingat suhu pagi menjelang pada saat ini sangat tinggi, sehingga akibatnya PORG yang kita semprotkan akan cepat menguap. Namun pada sore menjelang malam, penguapan PORG yang sudah disemprotkan tidak terjadi.


Apakah khasiat yang dihasilkan dari PORG ini ?

PORG dapat menekan dan mencegah serangan hama penyakit, penyiraman/ penyemprotan untuk tanaman buah dapat dilakukan 2 minggu sekali, disemprotkan ke tanah, batang dan daun pohon buah ( MPTS ) sedangkan untuk tanaman sayur mayur dapat dilakukan setiap 3 hari sekali, bergiliran dengan penyiraman pupuk cair organic.

Sekarang kita sudah memahami proses pembuatan pupuk pada dan cair organic yang seimbang, sekaligus pestisida organic sebegai pencegah hama. Dengan demikian, persoalan sampah yang berasal dari berbagai sumber produsen sudah kita temukan dan kita ketahui manfaat pengolahan sampah organic yang selama ini menumpuk di TPA dan menghasilkan penderitaan banyak orang dan hanya menjadi proyek pengayaan diri oleh sebahagian yang lain. Akan tetapi, setelah kita coba rnungkan, dan lihat disekliling TPA, maka sebenarnya penderitaan dan kerusakan menjadi bahagian yang paling besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan.

Sebagai ilustrasi singkat, sampah yang kita produksi dibuang ke tong sampah. Pra pembuangan sampah, kita telah menikmati berbagai makanan dan minuman yag kita konsumsi dirumah, atau kita suguhkan kepada para pembeli outlet makanan milik kita. Kemudian, sisa sisa pemanfaatan makanan dan minuman kita buang ke tempat sampah sementara, dengan asumsi sudah ada para petugas pengangkut sampah yang jerih payahnya mengangkut kita bayar dengan sejumlah uang ( paling tinggi sebesar Rp. 30 ribu perumah atau Rp. 40 ribu permeter kubik). Maka sampah pun dibawa oleh petugas kebersihan ke TPA ( Tempat Pembuangan Akhir Sampah). Di TPA inilah menumpuk sampah dari berbagai sumber.

Bila kita hitung secara kasar, seandainya setiap orang memproduksi sampah 2 hingga tiga liter perhari, maka kita kalikan jumlah warga kita misalnya 2000 rumah. Masing masing rumah dikalikan jumlah anggota keluarganya sebanyak 5 orang, maka 2000 rumah dikalikan 5 orang, maka jumlah produsen sampah menjadi 10 ribu orang. Jika 10 ribu kita kalikan 3 liter perorang maka ada 30 ribu sampah yang keluar dari komplek perumahan kita. Maka berapakah bila penduduk desa kita, kecamatan kita hingga kabupaten/ kota kita? Bila kita kalikan dengan 4 juta penduduk rata-rata perkabupaten, maka sudah ada timbulan sampah sebanyak 12 juta liter perhari, bagaimanakah bila kita kalikan 30 hari dalam sebulan bahkan 365 hari dalam setahun? Dari uji kasus ini secara kasar saja, maka kita sudah mulai menghamburkan sumber daya air ( karena tercemar leachet/ air lindi), sumber daya tanah, sumber daya udara dan tentu saja sumber daya pertanian dan perkebunan kita. Dari tumpukan sampah yang kita produksi ada magma yang siap meledak setiap saat, terutama pada musim kemarau, Gas methane yang terbuang keudara telah merusak ozon bumi ini, yang melindungi kita dari panasnya sinar ultraviolet dari matahari, di dalam kandungan tumpukan sampah ada gas methane yang terkepung dan akan terbakar pada musim kemarau. Secara sosial kemasyarakatan, uang bau sebagai dana kompensasi telah menjadi sarang korupsi, karena uang bau yang diberikan pembuang sampah tidak sampai kepada penderita akibat kebijakan ini. Maka dengan sendirinya rantai panjang penderitaan dan malapetaka semakin tersambung panjang yang tak akan pernah berujung.

Secara sosio kultural, sebenarnya kita mulai hidup dalam peradaban yang tidak beradab, betapa tidak kita katakan demikian? Kita yang menikmati kesejahteraan, perut kenyang dan dahaga hilang, namun ternyata berbaris orang orang yang semakin susah mengais ekonomi dalam kue pembangunan republik ini. Dilain sisi, tindak kriminalitas dimasyarakat marjinal, tanpa kita sadari semakin meningkat tajam. Orang orang kuat dan berpengaruh menguasai TPA, mereka mengutip uang parkir yang tidak sedikit dan tidak jelas kemana arah uang itu bermuara, para pemulung yang hidupnya semakin dalam dari jarak batas sejahtera, sementara bermilyar milyar rupiah uang yang kita bayarkan lewat pajak, lenyap ditelan pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab ini.

Bila saat ini, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk penanganan sampah, diantaranya program pengelolaan sampah dengan logo depan berbasis masyarakat, maka kita pun harus bertanya tanya, bagaimanakah kebijakan ini dilaksanakan, karena pada kenyataan dilapangan, pemerintah bermitra dengan sebuah lembaga usaha untuk membangun sistem pengolahan sampah, baik bangunan maupun perlatan, lalu apa peran masyarakat, apakah kita hanya memilah, kemudian mengkomposkan, lalu bagaimanakah kebijakan pemerintah yang harus mulai menyadarkan pengusaha besar yang sangat banyak menyumbang kemasan yang tidak rasional untuk didaur ulang, atau sulit diurai oleh proses alam? Apakah mereka hanya cukup membantu masyarakat dengan program CSR ( Corporate Social Responsibility) yang dibatasi radius pabrik, sementara hasil produksi sudah mencemari bumi ini bermil mil jaraknya dari pabrik. Atau sekarang kita biarkan saja itu terjadi, sementara itu panas bumi semakin meningkat, air laut meninggi, daratan kita tergerus air laut, dan esok lusa kita hanya menjadi legenda sebuah negara kepulauan yang hijau ranau dan kaya sumber daya alamnya di alam entah berantah! Bila kita bertahan didogma filosofi dan ideologi penyelamatan lingkungan, seberapa dala lagi kocek masyarakat harus kita rogoh, sementara mereka mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka karena sedikitnya jumlah peluang kerja dan usaha dibanding yang membutuhkannya. Inilah lingkaran setan yang harus dibunuh setannya, bukan dipotong lingkarannya, karena bila kita potong lingkarannya, akan ada lingkaran baru yang mungkin saja lebih kuat lingkaran barunya dibandingkan yang lalu. Tapi bila kita bunuh setannya, maka lingkaran tidak akan terbentuk lagi.

Apakah yang menjadi setan dari masalah ini? Yaitu keinginan kita yang tidak pernah melihat ke kanan kiri kita, kebelakang dan depan kita ketika sebiah standar hidup, standar usaha standar kebijakan dimulai. Bila kita melihat ke kanan kiri masih terdapat sanak famili dan saudara se tanah air dan se warga bumi, dibelakang kita ada pembantu, karyawan, murid rakyat dan didepan ada anak dan cucu kita. Maka setan itu tidak akan muncul kepermukaan masalah berbangsa dan bernegara bahkan sebagi warga dunia sekalipun. Inilah setan yang selama ini selalu dikasihani dengan kebijakan kebijakan yang mengacu kepada kepentingan sesaat dan dilindungi ketika ada sekelompok warga masyarakat akan membunuhnya.

Mungkin inilah saat yang tepat kita mulai mengkaji setiap keputusan dari berbagai arah termasuk keatas, Karena Tuhan tak akan pernah lupa dan lengah atas tindakan yang kita putuskan atau kebawah, karena disanalah tempat persemayaman kita kelak.

Dari awal hingga akhir tulisan ini, kata pupuk seimbang sering dicantumkan, apakah yang dimaksud dengan pupuk seimbang?

Sebenarnya, kata seimbang digunakan dengan menggunakan standar yang telah ditetapkan World Bank dalam program WJEMP ( Western Java Environmental Management Project) yang memberikan subsidi sebesar Rp. 300 /Kg. Dana ini berasal dari proyek GEF ( Global Environmental Facility).

Dalam kaitan ini, maka World Bank memberikan sebuah acuan batas atas standar kwalitas kompos yang dihasilkan melalui program 3 R sebagai berikut :




ANALISA LABORATORIUM RATA – RATA PENGOLAHAN SISTEM OPEN WINDROW


Maka dengan standar produksi kompos yang dihasilkan, maka peluang untuk menjadikan program zero waste salah satu pintu pengurangan jumlah jobless di Indonesia adalah sangat rasiional, hal ini dimungkinkan karena pada prinsipnya, selama manusia hidup, maka selama itu pula manusia akan terus memproduksi sampah, dan selama itu pula manusia bergantung terhadap hasil; pertanian sebagi pemenuhan kebutuhan konsumsinya. Seiring dengan pengolahan sampah di hilir, maka dihulu, perbaikan lahan kritis dan hutan yang sudah gundul serta kwalitas pertanian kita akan berjalan kearah yang lebih baik, tanpa kita sadari, sesungguhnya kita sudah melakukan hal besar dalam menyelamatan bumi ini melalui penghematan sumber daya alam yang tidak terbarukan dan terbatas. Meskipun, masih tersisa tanda Tanya besar ata kasus RDF yang akan diolah oleh siapa dan dimanfaatkan oleh siapa, karena jenis sampah yang satu ini, akan menjadi solusi atas krisis energi, tapi bisa jadi akan menumpuk di TPA juga pada akhirnya.

Kalau kita bertanya apa itu RDF? RDF itu adalah Refuse Derived Fuel, yaitu jenis sampah yang tidak rasional atau tidak layak untuk dijual ( Recycle ) seperti plastik plastik kemasan makanan yang sangat kecil atau sampah plastik yang sudah tertimbun tanah di TPA, Styrofoam, sampah sendal, ban bekas dan jenis karet sintetis dan lain – lain dan dicampur dengan sekam dan serbuk gergaji akan menjadi bahan bakar penghasil panas dengan analisa proses sebagai berikut :


* Nilai kalor dari RDF ini rata-rata 800 kkal/ky
* Merupakan jenis sampah yang memiliki kalor yang tinggi
* Beberapa sampah mengandung clorin dan sulfur
* Pembakaran mencapai 800 derjat cc dan terkendali ( menghindari dioxin)
* Ada pengendalian emisi gas buang
* Dimanfaatkan sumber energi panas

Dimanakah titik penghematan yang kita lakukan dengan memilah sampah dari produsennya ? Apakah sama saja bila kita tumpuk semua jenis sampah di TPS dan pada akhirnya para pemulung akan memisahkan sendiri, mana yang layak jual dan mana yang dibiarkan tertinggal di TPA?

Inilah pertanyaan dan sekaligus kesimpulan masyarakat pada umumnya ketika membicarakan sampah.

Titik penghematan kita secara garis besar pada kelestarian alam kita. Karena bila kaji pada hitungan 2,5 liter per orang perhari produksi sampahnya, maka bila 1.000.000 orang pendudul sebuah kota, maka sesungguhnya volume yang dihasilkan sama besarnya dengan candi Borobudur. Bila prilaku ini tidak segera diubah, maka bumi kita akan menjadi gunung sampah, atau bahkan kita akan hidup bersama itu sendiri, sungguh sebuah kenyataan hidup yang pasti semua orang hindari.

Dari segi pemanfaatan, bagaimana bisa berhemat ? ......... kita akan lanjutkan pada penulisan berikut.


EASYHITS4U

Link akun paypal Untuk transaksi bisnis anda yang lebih mudah

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PINGLER.COM

Ada kesalahan di dalam gadget ini