Rabu, 30 November 2011

Kirinyuh (Eupatorium inulifolium Kunth.)


Nama umum
Indonesia:       Kirinyuh

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
         Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
             Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                 Sub Kelas: Asteridae
                     Ordo: Asterales
                         Famili: Asteraceae
                             Genus: Eupatorium
                                 Spesies: Eupatorium inulifolium Kunth

Kerabat Dekat : Glepangan, Prasman
Keterangan
sebagai tumbuhan "Perennial menyebarkan semak berebut 1 sampai 5 m. Batang silinder, ditutupi dengan rambut pendek padat. Daun sebaliknya, tombak berbentuk, 7 to18 cm, 2,5-8 cm lebar, puber, hijau pucat di bawah, tiba-tiba menyempit dengan tangkai daun berbentuk baji 0,5 sampai 3 cm Floral kepala 2 sampai 3 mm diameter, 5 sampai 6 mm, disusun dalam corymbs terminal besar;.. kepala masing-masing terdiri 3 atau 4 seri bracts involucral melampirkan putih krem ​​sampai 15 10 kuntum dengan Corolla 4 sampai 5 mm; bunga harum Achenes lonjong, sudut, sampai 1,5 mm, dengan 4 mm keputihan pappus lama "(Waterhouse & Mitchell 1998, PIER 2008)..
Dapat dijumpai:
Daerah pertanian daerah, hutan alam, hutan tanaman, kisaran / padang rumput, zona riparian, ruderal / terganggu, menggosok / shrublands, program air, lahan basah
Habitat
Sabana, rawa, batas hutan, daerah terganggu, 100-2100 m (Berry et al 1997, di PIER 2008). Disturbed hutan, perkebunan dan tanaman tahunan, pinggir jalan. Lebih menyukai kondisi lembab. Dekat permukaan laut sampai 2000 m ketinggian (Waterhouse & Mitchell 1998, PIER 2008). Naturalisasi terbaru dari inulifolium eupatorium neotropical (Kunth) RM King & H. Rob. telah diamati pada ketinggian 1300-1400 meter di Pegunungan Tengah Taiwan (Peng Hsu & Wang 2006). Di Taiwan bisa mencapai dua meter di lereng terbuka, di sepanjang sisi jalan atau di daerah tanah longsor dan berhubungan dengan tanaman kurus lain (Peng Hsu & Wang 2006).
Dampak Umum
Eupatorium inulifolium terdaftar sebagai "gulma pertanian dan lingkungan" di Kompendium Global Gulma (2008). Ini adalah gulma serius di Filipina di mana bentuk semak-semak yang sangat padat di perkebunan karet, teh dan rosella, perkebunan padi dataran tinggi dan dalam pembukaan di hutan sekunder (Waterhouse & Mitchell 1998, PIER 2008).
Kisaran Geografis
Native range: The genus Eupatorium RM King dan H. Rob. terdiri dari 13 spesies didistribusikan di Andes Amerika Selatan utara ke Panama dan Trinidad, dengan pusat keanekaragaman di bagian timur Amerika Selatan ke arah barat ke Bolivia (King dan Robinson 1987, di Peng Hsu & Wang 2006). A. inulifolium adalah tanaman neotropical luas di asli Amerika Selatan dari Panama, Kolombia, Venezuela, Ekuador, Peru, Bolivia, Brasil, Uruguay ke Argentina.
Diperkenalkan berbagai Dikenal: E. inulifolium adalah adventive / naturalisasi di Indonesia, Sumatera, Ceylon / Sri Lanka dan Taiwan (King dan Robinson 1987, McFadyen 2003, Peng Hsu & Wang 2006). Eupatorium inulifolium tidak diketahui di wilayah EPPO (EPPO 2006).
Metode penyebaran Lokal
Alam penyebaran (lokal):
Penyebaran oleh angin-tersebar benih (Waterhouse & Mitchell 1998, PIER 2008).
Reproduksi
Periode pembungaan adalah antara bulan September dan Januari di Taiwan (Peng Hsu & Wang 2006).
Manfaat dalam keadaah darurat di hutan
Dalam keadaan daruran daun tumbuhan ini dapat dijadikan obat luka, pembersih, kayu dan rantingnya yang ringan dapat digunakan untuk perapian awal 

Potensi Gulma Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata) Sebagai Pakan Ternak

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Permasalahan utama dalam usaha peternakan di negara-negara tropis termasuk Indonesia adalah faktor suhu lingkungan yang cukup tinggi. Kondisi ini berdampak langsung pada sistem metabolisme dan termoregulasi dalam tubuh ternak. Lingkungan yang relatif panas menyebabkan sebagian ternak akan ‘enggan makan’ sehingga secara kuantitas asupan zat makanan (nutrient) yang masuk dalam tubuh jadi berkurang. Disamping faktor suhu, ketersediaan hijauan pakan ternak yang berfluktuasi turut memperparah keadaan.
Berfluktuasi ketersediaan hijauan pakan ternak ini dipengaruhi oleh iklim, dimana pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah. Disamping itu, mutu hijauan pakan di daerah tropis ini cukup rendah dengan ditandai kadar serat kasar yang tinggi dan protein kasar rendah. Padahal, asupan nutrient ini berperan penting untuk mencukupi kebutuhan pokok (maintenance), perkembangan tubuh dan untuk kebutuhan bereproduksi. Implikasi dari kondisi asupan gizi ternak yang kurang, tak jarang dijumpai ternak dengan pertambahan berat hidup (average daily gain/ADG) yang masih sangat jauh dari hasil yang diharapkan baik di tingkat peternakan rakyat maupun industri.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia harus diikuti dengan peningkatan penyediaan hijauan pakan yang cukup, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Hijauan pakan ternak yang umum diberikan pada ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan. Namun ketersediaan hijauan pakan ternak mulai berkurang seiring dengan terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri.
Untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan salah satunya adalah pemanfaatan limbah pertanian/perkebunan sebagai pakan ternak. Limbah pertanian/perkebunan memiliki potensi yang cukup besar sebagai sumber pakan ternak ruminansia. Namun demikian, dari potensi dan daya dukung limbah pertanian/perkebunan tersebut ada beberapa hal yang menjadi faktor pembatas pemanfaatan limbah pertanian/perkebunan sebagai pakan ternak seperti rendah kadar protein kasar dan tinggi serat kasarnya serta ketersedian pakan yang tidak kontiniu.
Salah satu cara untuk mengatasi kekurangan hijauan makanan ternak terutama pada daerah yang menghadapi permasalahan akibat kekurangan hijauan pakan ternak karena invasi gulma yang sulit diatasi dengan memanfaatkan gulma itu sendiri. Salah satu gulma yang dapat digunakan adalah ki runyuh atau semak bunga putih (Chromolaena odorata) dimana kehadirannya tidak dikehendaki dalam suatu areal tertentu karena dianggap mengganggu tanaman pertanian maupun rumput yang merupakan pakan ternak sehingga terus diupayakan pemusnahannya.
Bila dilihat dari ketersediaanya yang cukup berlimpah maka Ki rinyuh berpotensi sebagai pakan ternak. Disamping itu sesuai pernyataan Marthen, (2007), Chromolaena odorata mengandung protein yang tinggi (21-36%) setara dengan turi, lamtoro dan gamal; produksi protein kasar sebesar 15 ton/thn, memiliki keseimbangan asam amino yang baik untuk ternak monogastrik, palatabilitas lebih baik dari gamal, suplementasi sampai 30% dalam ransum meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan ternak kambing dan penelitian di Afrika dan Eropa menunjukkan adanya senyawa anti helmintik/obat anti cacing.
Namun demikian pemanfaatan Chromolaena odorata ini perlu dikaji lebih jauh karena gulma ini memiliki zat anti nutrisi. Sesuai pernyataan Ikhimioya (2003), Chromolaena odorata mengandung zat antinutrisi. seperti Haemagglutinnin, Oxalate, Phytic acid, Saponin.
TINJAUAN LITERATUR
Sejarah Penyebaran Chromolaena odorata

Ki rinyuh berasal dari Amerika Tengah, tetapi kini telah tersebar di daerah-daerah tropis dan subtropis. Gulma ini dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah dan akan tumbuh lebih baik lagi apabila mendapat cahaya matahari yang cukup (Vanderwoude et al. 2005). Kondisi yang ideal bagi gulma ini adalah wilayah dengan curah hujan > 1000 mm/tahun (Binggeli, 1997). Dengan demikian, gulma ini tumbuh dengan baik di tempat-tempat yang terbuka seperti padang rumput, tanah terlantar dan pinggir-pinggir jalan yang tidak terawat.

Mc Fadyen dalam Wilson dan Widayanto (2004) memperkirakan bahwa Ki rinyuh menyebar di kepulauan Indonesia sejak Perang Dunia II. Dengan penyebaran itu kini Ki rinyuh dapat dijumpai di semua pulau-pulau besar di Indonesia. Di lain pihak Sipayung et al. (1991) memperkirakan Ki rinyuh telah ada di Indonesia sebelum tahun 1912. Namun demikian, laporan pertama yang menyangkut kerugiannya terhadap ternak baru dilaporkan pada tahun 1971 (Soerohaldoko, 1971), yaitu mengenai keberadaan Ki rinyuh di cagar alam Pananjung, Jawa Barat, yang merugikan banteng di suaka alam tersebut karena rumput pakannya berkurang akibat invasi gulma berkayu ini.

Ki rinyuh tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa, tetapi juga ditemukan di seluruh Indonesia seperti di Sumatera (Sipayung et al., 1991), di Kalimantan (De Chenon et al., 2003), di Lombok, Sumbawa, Flores, Timor (Wilson Dan Widayanto, 2004; De Chenon et al., 2003; Mcfayden, 2004), Sulawesi dan Irian Jaya (Sipayung et al., 1991; Wilson dan Widayanto, 2004).

Di Afrika, gulma padang rumput ini digolongkan pada gulma yang paling berbahaya selain dari alangalang (Imperata cylindrica), puteri malu (Mimosa sp.), sadagori (Sida acuta), Commelina sp., Hyptis sp. Dan saliara (Lantana camara) karena mengganggu padang rumput dengan mengurangi produktivitas dan mengurangi diversitas jenis-jenis rumput (Opponganane Dan Francais, 2002). Gulma berkayu ini tidak hanya tumbuh di daratan Afrika, tetapi juga di pulau-pulau sekitarnya seperti Pulau Madagaskar dan Mascarene. Tidak hanya di Asia dan Afrika, gulma ini juga ternyata sudah masuk ke Australia (Murphy (1997). Pheloung (2003) menunjukkan bahwa pada tahun 1994 Ki rinyuh telah berada di Queensland, bahkan kini digolongkan pada gulma kelas 1, yaitu gulma yang mendapat prioritas untuk dikendalikan (Department Of Natural Resources, Mines And Water, 2006). Karantina Australia pada tahun 2003 telah menganggarkan dana sebanyak 200 juta AUD untuk mengendalikan berbagai hama dan gulma. Untuk C. odorata saja selama tujuh tahun sejak 1994 telah dihabiskan dana sebanyak 1,1 juta AUD.

Menurut FAO (2006) gulma ini tidak tahan naungan sehingga tidak ditemukan di hutan-hutan yang tertutup, namun walaupun demikian di Indonesia dan di berbagai negara lain di Asia, Ki rinyuh banyak ditemukan di perkebunan-perkebunan seperti karet, kelapa sawit, kelapa, jambu mente dan sebagainya (Muniappan Dan Marutani, 1988).

Gulma Ki Rinyuh atau Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata)
Ki rinyuh (Sunda) atau dalam bahasa Inggris disebut siam weed (Chromolaena odorata (L) R.M. King and H. Robinson) merupakan salah satu gulma padang rumput yang penting di Indonesia, di samping saliara (Lantana camara). Gulma ini diperkirakan sudah tersebar di Indonesia sejak tahun 1910-an (Sipayung et al., 1991), namun keberadaannya kurang mendapat perhatian, kecuali oleh kalangan perkebunan karet, karena selain merupakan gulma di padang rumput, Ki rinyuh juga gulma yang sangat merugikan perkebunan karet (Sipayung et al., 1991).

Keberadaan tumbuh-tumbuhan lain selain dari pakan ternak di padang rumput, terutama di padang rumput alam, adalah sesuatu yang wajar karena hal ini erat kaitannya dengan keadaan lingkungan (ekologi) baik pada masa lalu maupun pada saat sekarang. Namun apabila populasinya sudah sangat tinggi sehingga menekan pertumbuhan dan populasi rumput pakan yang ada, maka tumbuhan tersebut sudah berubah menjadi gulma (Binggeli, 1997). Yang termasuk gulma di padang rumput adalah semua jenis tumbuhan yang merugikan produktivitas ternak di padang rumput, baik secara langsung maupun tidak langsung. Biasanya gulma padang penggembalaan merupakan tumbuhan yang tidak palatabel, berkayu dan atau beracun. Ki rinyuh tergolong ke dalam gulma yang beracun dan berkayu (Ginting et al., 1981) karena kandungan nitratnya yang sangat tinggi sehingga dapat menyebabkan aborsi bahkan kematian ternak (Department Of Natural Resources,Mines And Water, 2006).

Prawiradiputra (2008), tanaman ini dianggap suatu gulma yang sangat merugikan karena: (1) dapat mengurangi kapasitas tampung padang penggembalaan, (2) dapat menyebabkan keracunan, bahkan mungkin sekali kematian ternak, (3) menimbulkan persaingan dengan rumput pakan, sehingga mengurangi produktivitas padang rumput, dan (4) dapat menimbulkan bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau.

Karakteristik Bunga Semak Putih Atau Ki Rinyuh

Ki rinyuh termasuk keluarga Asteraceae/Compositae. Daunnya berbentuk oval, bagian bawah lebih lebar, makin ke ujung makin runcing. Panjang daun 6 – 10 cm dan lebarnya 3 – 6 cm. Tepi daun bergerigi, menghadap ke pangkal. Letak daun juga berhadap-hadapan. Karangan bunga terletak di ujung cabang (terminal). Setiap karangan terdiri atas 20 – 35 bunga. Warna bunga selagi muda kebiru-biruan, semakin tua menjadi coklat (Gambar 1).
Gambar 1. Bentuk daun dan bunga Ki rinyuh

Ki rinyuh berbunga pada musim kemarau, perbungaannya serentak selama 3 – 4 minggu (Prawiradiputra, 1985). Pada saat biji masak, tumbuhan mengering. Pada saat itu biji pecah dan terbang terbawa angin. Kira-kira satu bulan setelah awal musim hujan, potongan batang, cabang dan pangkal batang bertunas kembali. Biji-biji yang jatuh ke tanah juga mulai berkecambah sehingga dalam waktu dua bulan berikutnya kecambah dan tunas-tunas telah terlihat mendominasi area.

Pengamatan Yadav dan Tripathi (1981) menunjukkan bahwa pada komunitas yang rapat, kepadatan tanaman bisa mencapai 36 tanaman dewasa per m2 ditambah dengan tidak kurang dari 1300 kecambah, padahal setiap tanaman dewasa masih berpotensi untuk menghasilkan tunas. Tumbuhan ini sangat cepat tumbuh dan berkembang biak. Karena cepatnya perkembangbiakan dan pertumbuhannya, gulma ini cepat juga membentuk komunitas yang rapat sehingga dapat menghalangi tumbuhnya tumbuhan lain melalui persaingan (FAO, 2006). Selanjutnya dinyatakan bahwa Ki rinyuh dapat tumbuh pada ketinggian 1000 – 2800 m dpl, tetapi di Indonesia banyak ditemukan di dataran rendah (0 – 500 m dpl) seperti di perkebunan-perkebunan karet dan kelapa serta di padang-padang penggembalaan (FAO, 2006). Tinggi tumbuhan dewasa bisa mencapai 5 m, bahkan lebih (Department of Natural Resources, Mines and Water, 2006). Batang muda berwarna hijau dan agak lunak yang kelak akan berubah menjadi coklat dan keras (berkayu) apabila sudah tua (Gambar 2).
Gambar 2. Ki rinyuh dewasa

Letak cabang biasanya berhadap-hadapan (oposit) dan jumlahnya sangat banyak. Percabangannya yang rapat menyebabkan berkurangnya cahaya matahari ke bagian bawah, sehingga menghambat pertumbuhan spesies lain, termasuk rumput yang tumbuh di bawahnya (Gambar 3).
Gambar 3. Ki rinyuh dewasa membentuk semak

Dengan demikian gulma ini dapat tumbuh sangat cepat dan mampu mendominasi area dengan cepat pula. Kemampuannya mendominasi area dengan cepat ini juga disebabkan oleh produksi bijinya yang sangat banyak. Menurut Department of Natural Resources, Mines and Water (2006), Setiap tumbuhan dewasa mampu memproduksi sekitar 80 ribu biji setiap musim. Sifat-sifat inilah yang mungkin ditakuti peneliti padang rumput Australia sehingga berupaya untuk menangkalnya dengan berbagai cara.

Potensi Pemanfaatan Chromolaena Odorata Sebagai Pakan Ternak

Chromolaena odorata mempunyai potensi sebagai pakan ternak (Marthen, 2007). Semak bunga putih memiliki potensi dimana mengandung protein yang tinggi (21-36%) setara dengan turi, lamtoro dan gamal; produksi protein kasar sebesar 15 ton/thn, memiliki keseimbangan asam amino yang baik untuk ternak monogastrik, palatabilitas lebih baik dari gamal, suplementasi sampai 30% dalam ransum meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan ternak kambing dan penelitian di Afrika dan Eropa menunjukkan adanya senyawa anti helmintik/obat anti cacing (Marthen, 2007).

Penelitian di Pakistan oleh Bamikole dan Osemwenkhoe (2004) menunjukkan bahwa tepung daun Chromolaena odorata dapat ditambahkan dalam pakan kelinci sampai level 30% dari berat kering pakan. Pemberian pada level 30% tersebut menghasilkan pertumbuhan terutama pertambahan bobot badan yang baik pada pakan sebagai konsentrat.

Hasil penelitian Sagala (2009) menyatakan bahwa, tepung daun semak bunga putih dapat digunakan sebagai bahan pakan burung puyuh sampai pada level 10% dalam ransum. Dan dari hasil penelitian Ginting (2009) menyatakan bahwa pengaruh semak bunga putih (chromolaena odorata) dalam ransum ayam pedaging memberikan pengaruh tidak nyata terhadap konsumsi ransum dan konversi ransum hingga level 10%.

Kandungan asam amino semak bunga putih yaitu alanine (4,03%), arginine (4,96%), glysine (4,61%), lysine (2,01%), methionine (1,58%), cystine (1,30%), leucine (7,01%), valine (6,20), dan asam glutamic (9,38%) (Marthen, 2007). Hasil analisa proksimat tepung semak bunga putih menunjukkan bahwa protein kasar (25,51%), bahan kering (89,94%), lemak kasar (1,88%), serat kasar (11,17%), dan abu (15,92%) (Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak USU, 2008), sedangkan kandungan energinya sebesar 3.583,5 kkal/kg (Loka Penelitian Kambing Sei Putih), Ca (0,14%), dan P (0,42%) ( Lab. Sentral FP USU).

Kirinyu (Chromolaena odorata) adalah salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai larvasida alami. Tumbuhan ini mengandung senyawa fenol, alkaloid, triterpenoid, tanin,flavonoid (eupatorin) dan limonen. Kandungan tanin yang terdapat dalam daun kirinyuh adalah 2,56% (Romdonawati, 2009).

Menurut Ikhimioya (2003), Chromolaena odorata mengandung zat antinutrisi. Kandungan antinutrisi Chromolaena odorata adalah sebagai berikut: Haemagglutinnin 9.72 mg/g, Oxalate 1.89 %, Phytic acid 1.34 % dan Saponin 0.50 %


PEMBAHASAN
Tanaman Ki rinyuh atau semak bunga putih (Chromolaena odorata) dewasa ini merupakan tanaman yang sangat ditakuti diberbagai belahan dunia karena dianggap tanaman semak yang dapat tumbuh sangat cepat dan mampu mendominasi area dengan cepat pula. Namun bila dikaji lagi dibalik tantangan ini ada peluang pemanfaatannya di sub sektor peternakan karena dapat dijadikan sebagai sumber bahan pakan pengganti hijauan makanan ternak yang ketersediaannya cukup terbatas/berfluktuasi akibat iklim tropis (musim kemarau dan musim penghujan).
pemanfaatan Chromolaena odorata sebagai pakan ternak perlu diteliti lagi karena beberapa penelitian yang pernah dilakukan, tanaman ini dapat dimanfaatkan namun dalam level yang rendah. Hal ini mungkin disebabkan kandungan anti nutrisinya. Berdasarkan hasil penelitian (Marthen, 2007), suplementasi Chromolaena odorata sampai 30% dalam ransum meningkatkan konsumsi dan pertumbuhan ternak kambing dan penelitian menunjukkan adanya senyawa anti helmintik/obat anti cacing. Sedangkan berdasarkan penelitian Sagala (2009) dan Ginting (2009), Chromolaena odorata dapat dimanfaatkan sampai level 10 % pada ternak puyuh dan broiler.

Bila dilihat dari ketersediannya yang cukup berlimpah maka hal ini merupakan suatu peluang bagi daerah yang banyak terdapat gulma ini. Namun perlu diteliti lebih lanjut sejauh mana gulma Chromolaena odorata dapat dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak, karena disamping memiliki beberapa keunggulan (seperti mengandung protein yang tinggi (21-36%) setara dengan turi, lamtoro dan gamal; memiliki asam amino seimbang dan palatabilitas lebih baik dari gamal, gulma Chromolaena odorata juga memiliki beberapa kelemahan (mengandung zat antinutrisi seperti haemagglutinnin, oxalate, phytic acid dan saponin). Dengan mengetahui zat anti nutrisi yang dikandungnya maka akan dapat dilakukan penelitian tentang pengolahan yang tepat pada gulma ini sehingga dapat dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak dan memberi produktifitas yang optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Chromolaena odorata merupakan gulma yang sangat berpotensi sebagai hijauan makanan ternak karena ketersediaannya berlimpah sepanjang tahun. Chromolaena odorata memiliki beberapa keunggulan seperti kandungan protein tinggi, memiliki asam amino seimbang serta palatabilitas lebih baik dari pada gamal. Namun memiliki beberapa kelemahan (mengandung zat antinutrisi seperti haemagglutinnin, oxalate, phytic acid dan saponin).

Saran
Untuk meningkatkan pemanfaatan Chromolaena odorata sebagai hijauan makanan ternak maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut berkaitan dengan cara penggolahannya guna mengurangi zat antinutrisi yang terdapat didalamnya sehingga dapat dimanfaatkan oleh ternak lebih optimal.


DAFTAR PUSTAKA

Ikhimiyoya,2003. Acceptability of selected common shrubs/tree leaves in Nigeria by West African Dwarf Goats. Departement of Animal Science, Faculty of Agriculture, Ambrose Alli University, Ekpoma, Nigeria.

Binggeli, P. 1997. Chromolaena Odorata. Woody Plant Ecology. http://members.lycos.co.uk/WoodyPlant Ecology/docs/web-sp4.htm. (13 Januari 2006).

De Chenon, R.D., A. Sipayung And P. Subharto. 2003. Impact of Cecidochares connexa on Chromolaena odorata in different habitats in Indonesia. Proc. of the 5th International Workshop on Biological Control and Management of Chromolaena odorata.

Department Of Natural Resources, Mines And Water, 2006. Siam Weed Declared no 1. Natural Resources, Mines and Water, Pesr Series, Queensland, Australia.pp. 1 – 4.

FAO. 2006. Alien Invasive Species: Impacts on Forests and Forestry - A Review. http://www.fao.org//docrep/008/ j6854e/j6854e00.htm. (25 Oktober 2007)

Ginting, J. 2009. Pengaruh Semak Bunga Putih (Chromolaena odorata) Dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Pedaging Umur DOC - 42 Hari. USU, Medan

Ginting, Ng., Yuningsih Dan Indraningsih. 1981. Tanamtanaman beracun di daerah Jawa Barat. Bull. Lembaga Penelitian. Penyakit Hewan 21: 63 – 72.

Mcfadyen, R.C. 2004. Chromolaena in East Timor: History, extent and control. In: Chromolaena odorata in the Asia Pacific Region. DAY, M.D. and R.E.MC FADYEN (Eds.) ACIAR Technical Report 55: 8 – 10.

Murphy, S.T. 1997. Protecting Africa's trees. Paper submitted to the Eleventh World Forestry Congress. 13 – 22 October 1997, Antalya, Turkey.

Oppong-Anane, K. and Francais. 2002. Ghana Country Pasture/Forage Resource Profiles. Ministry of Food and Agriculture, Accra-North, Ghana.

Pheloung, P. 2003. Contingency planning for plant pest incursions in Australia. Proc. of a workshop in Braunschweig, Germany 22 – 26 September 2003. Food and Agriculture Organization of the United Nations. www.fao.org/doctep/008/y5968e/y5968e Ov.htm. (13 Januari 2006)

Prawiradiputra, B.R. 1985. Perubahan Komposisi Vegetasi Padang Rumput Alam akibat Pengendalian Ki Rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King and H. Robinson) di Jonggol, Jawa Barat. Thesis, Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 79 hlm.

Prawiradiputra, B.R. 2007. Ki Rinyuh (Chromolaena odorata (L) R.M. King dan H. Robinson): Gulma Padang Rumput yang Merugikan. Buletin Ilmu Peternakan Indonesia ( WARTAZOA), Volume 17 No. 1 (2007)

Sagala, N.S. 2009. Pemanfaatan Semak Bunga Putih (Chromolena odorata) Terhadap Pertumbuhan Dan IOFC Dalam Ransum Burung Puyuh (Cortunix-cortunix japonica) Umur 1 Sampai 42 Hari. USU, Medan.

Sipayung, A., R.D. De Chenon And P.S. Sudharto. 1991. Observations on Chromolaena odorata (L.) R.M. King and H. Robinson in Indonesia. Second International Workshop on the Biological Control and Management of Chromolaena odorata. Biotrop, Bogor. http://www.ehs.cdu.edu.au/chromolaena/2/ 2sipay. (13 Januari 2006)

Soerohaldoko, S. 1971. On the occurrence of Eupatorium odoratum at the game reserve Pananjung, West Java. Weeds in Indonesia. 2(2): 1 – 9.

Vanderwoude, C.S., J.C. Davis and B. Funkhouser. 2005. Plan for National Delimiting Survey for Siam weed. Natural Resources and Mines Land Protection Services: Queensland Government.

Wilson, C.G. and E.B.Widayanto. 2004. Establishment and spread of Cecidochares connexa in Eastern Indonesia. In: Chromolaena in the Asia-Pacific Region. DAY, M.D. and R.E. MC FADYEN (Eds.) ACIAR Technical Reports No. 55. pp. 39-44.

Yadav, A.S. and R.S. Tripathi. 1981. Population dynamic of the ruderal weed Eupatorium odoratum and its natural regulation. Oikos No. 36. Copenhagen.


Tidak ada komentar:

EASYHITS4U

Link akun paypal Untuk transaksi bisnis anda yang lebih mudah

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PINGLER.COM

Ada kesalahan di dalam gadget ini