Selasa, 30 Maret 2010

ANTARA AKU DAN HARIMAU ITU…


"Extination is forever", begitulah satu petuah bijak, apapun yang menyangkut kepunahah adalah abadi. Manghindarinya, karna kita tak ingin anak cucu kita nanti hanya mendengar terompet kawanan gajah dari cerita saja. Mereka harus jadi saksi langsung sepak terjang "si Belang" sang raja rimba. Aku pun yakin mereka akan bersuka melihat tingkah pola pemalunya si endut bercula alias badak. Namun pertanda kepunahan itu ada dan sangat jelas di mataku sekarang. Gading culah dan kulit "si Belang" yang tak terharga nilai dan sudah menjadi kepentingan heritage di negri ini, sudah di sulap menjadi rupiah oleh segelintir durjana. Belum sepenuhnya kehidupan manusia menyatu, meretas dengan alam. Arus kerusakan terlalu kuat untuk di bendung membuat hatiku separti tertikam. 

Pun mendapati berita ini hari. Bahkan segelas kopi kental kas kota ini yang seharusnya membuat gairah roda-roda hariku kini tak lagi nikmat bahkan tuk sakedar tuk di cicip. Ketika pai rokok ku membakar sisa batang yang tersisa, nikmatpun tak lagi. Aku kasih tajuk ini hari sebagai 'Oktober kelabu', ketika anaku lahir telah menyandamg duka, kawan gajah di Cagul mati secara mengenaskan dan misterius. Beberapa temuan racun mematikan, maka aku terujung pada kesimpulan, kawanan gajah malang itu di binasahkan. Bagi para durjana, tak lebih dari hama perusak tanaman. Keberadanya berarti malapetaka kerugian. Tak selang dari seminggu, masyarakat di hebohkan kembali konflik tiga harimau yang menyerang pekon tampang tua "si Belang" menjemput ajalnya pada satu pertikaian yang tak berimbang. Di Koran di sebutkan 22 ekor kambing dan 10 ekor ayam. Sedangkan matinya si belang di anggap lumrah bahkan tak banyak menyisakan luka. Bahkan se cuil pun tidak, malah Nampak raut wajah serasa menyiratkan kepuasan. 

Aku terus berfikir, pada bagian mana harus kuselipkan sisi cerita tuk anakku sepuluh tahun mendatang bahwa "si belang" ke pemukiman hanyalah sebuah keterpaksaan karena mangsanya di rimba telah banyak di lenyapkan kaum serakah kota. Harimau menyerang manusia, dan manusia menyerang harimau. Aku semakin di liputi kecemasan. Upaya penyelamatan ini tak sepadan dan terasa sia-sia, bagai mana perang harus di benturkan denga laras panjang. Meradang sekujur tubuh melihat sebongkah daging besar yang membujur kaku. Berserakan puluhan mayat gajah tak bergading lagi. Mungkin inihari. Musuh sedang berpesta layaknya belatung menggerogoti bangkai-bangkai ini tak jauh dari radius TKP, seekor badak masih terjerat saling terkapar mengenaskan tenpa kepala tertebas chain saw para durjana. Jika begini maka yang biasa  di lakukan hanya menghitung dan menghitung hari bahwa kenyataan tak terelakan: jumlahnya kini mulai berkurang. Mereka berhasil menikam perut rimba ini dari segala penjuru tanpa ampun.
Secara yang ku tunggu mendekati harapan nyata. Tebaran cahaya semalam kala purnama nampak pesona menembus tetinggian pohon rimba. Dua durjana dan satu penadah dari berita yang mambuat api semangat yang lama padam kembali berkobar setelah puluh tahun lamanya di liputi dahaga akan itu. Di hadapan siaran live salah satu stasiun televisi nasional aku bercerita lantang: akulah ''si belang" akulah gajah itu, dan akulah badak dari anak-anakku.

Ini barulah awal dari suatu perang. Aku berjuang untuk cerita anak-anakku kedepan. Sebab musuh utama yang menjadi kepunanahan adalah cukong. Mereka belum sama sekali tersentuh vonis memang telah di jatuhkan, tapi belum pada saran bidik yang sesungguhnya. Orang yang di hadapan ku terpekur di kursi pesakitan sebagai terdakwa dan betapa ku ingin meledakan kapalanya dangan panah namun hanyalah sama-sama korban sebagai mana "si belang" badak ataupun kawanan gajah yang telah mereka lukai. Satu kata saja, merekan di hadapkan persoalan ketak berdayaan jeratan hidup. Anak-anakku pasti penuh caci maki mengetahui berapa imbal balik yang di bayarkan atas perburuan gading, kulit, "si belang" atau pun cula. Sama sekali mereka tidak di untungkan di lingkaran bisnis ini. Toh bagaimanapun mereka layak mendapatkan ganjaran karena memang punya andil.' Jadi, ini belumlah selesai",kataku dalih mereka keluar dari jeratan hidup dengan cara seperti itu haruslah di pupus. Aku masih di liputi kecemasan. 

Tibalah kami di petok 50, ketika bersamaan patroliku di kejutkan bayangan berkelebatan di kejauhan melompat dan mendedadak berhenti di tengah jalan. Lampu mobil sengaja kunyalakan namunt idak bias memastikan hewan atau mahluk apakah itu. Yah dugaan kami benar, kami di hadang "si belang". Aku menghantikan laju roda tepat tak lebih jarak 5 meter. Di ujung jalan penuh lobang membelah bukit kali pertama dalam sejarahku bersanding "si belang" dalam jarak sedakat ini. Sorot mata begitu tajam mencerang, namun pembawaannya begitu teduh. "kita coba turun dari mobil saja pak!",ucap ijal pelan. 'yah, kita ambil resiko, 'kawan kita' sepertinya tak ada tanda-tanda akan menyerang", sahutku.

Senjatanya pak!, kembali ijal mengingatkanku. "betul jal, sebaknya kita tak usah bawa senjata tinggal saja di mobil!" bergegas walau rasa was-was sedikit menghanyut di dada. Sekelilingku terlihat lebih angker, bulu kuduk merinding dan sedikit mengusikku. Hal ini tak terduga sama sekali. Aku dan ijal terus berkomunikasi lewat isyarat. Untuk sesaat ingatanku kembali tertuju pada saat pertama kali menginjakan kaki di belantara ini. Aku berkirim kabar pada adinda kekasihku. Mungkin adinda satu-satu yang mempercayai.
Adinda………. Mungkin tak ada yang percaya bila kisah ini kuceritakan, sedang kisah ini amatlah indah…. Manakala aku tersesat…. Kali pertama aku mengakrabi hutan ini, belum sepenuhnya jalan setapak kukenali dengan baik. Aku berjalan lama hari itu, hampir separo lebih. Dan aku tak tahu andinda……. Sama sekali tak sadar sama sekali aku tak sadar saat sore beranjak menapaki malam, jalanku telah salah arah malah menghantarkanku ke tanjakan dan berujung berbatu…. Dan katika telah sadar…. Aku sungguh di liputi kacamasan memikirkanmu andinda. Cuaca begitu angker hinggaku tak menemukan jalan ke perkampungan. Jika badai ini datang, maka mampuslah aku sayangku. Aku akan mati di sini sebelum aku bisa berbuat untuk rimba ini. Andinda, aku tak paham misteri rimba ini, namun kau harus kukabari….. bahwa jejak basah si belang telah menyalamatkanku begitu aku melihatnya, hatiku di penuhi semangt '45 dengan sisa tenaga, aku ikuti jejak si belang menghilang pada jarak 20 meter dari perkampumgan……… aku selamat sayangku dan betapa terharunya aku. Yours forever (16 november 2000, lampung)

Dan pada detik ini mungkin si belang yang telah manuntunku itu. Maka aku menyapa sebisaku. Pak, sepertinya 'kawan kita' ingin menunjukan sesuatu," "yah kau juga berfikir sama jal. Apa gerangan terjadi?" ucapku lirih rasa was-was yang menghantui beberapa saat lalu perlahan lenyap, aku terhenyak sesaat melihat "si belang" mendadak meloncak lari menuju jalan setapak hutan, sebelum lebih jauh menyusuri, si belang mengaum keras, memperlihatkan taring ajamnya dan kembali menoleh arahku. Pasti ada misteri di balik ini jal. Ayo kita ikuti!" gerakanku sengaja kubuat lebih gasit selayaknya sepasang harimau sedang bercengkarama, menari di sepanjang pegunugan. Si belang terus berlari menyusuri bukit masih dalam jalan setapak, manuju hulu air-ke kali yang bening si belang menghantikan langkah persis di dekat kubangan badak. Sebelum sempat berfikir, aku di kejutkan suara keras ijal yang berdiri tepat di sebelah kiriku. "lihat itu pak!" benar saja, sosok tubuh tersungkur meski masih samar dalam pandanganku, bergegas kami mendatangi. "jonfa?!!" kanapa kau!!??" ijal spontan mendekap, melihat tubuh sohib karibnya bersimbah darah, belepotan lumpur di sekujur tubuh dan seragam lapangan jonfa. Sama sekali aku tak menyangka, rupanya inilah misteri itu. Aku tak melihat kemana lagi si belang itu pergi. "oh Tuhan, teman seperjuanganku sekarat." Dengan setengah di paksa  Jonfa mencoba tersenyum lebar menyambut kedatanganku dan ijal. "jangan bicara dulu kau akan selamat, kami telah bersamamu, kau akan selamat Jonfa!!, ucapku lirih "Tt….tt…tidak pak. Durjana keparat itu kabur sebelumku ledakan kepalanya. Mereka telah membrondong gajah tunggal dangan lonco. Di antara kami sempat kontak senjata, namun dari arah belakang sekejap sebetan belalai gajah itu melumpuhkanku. Aku yakin gajah itu tidak sengaja malukaiku" 

Ijal memeriksa sekeliling, jelas sekali kodisi sekitar acak-acakan layaknya medan pertempuran. Beberapa pohon besar tumbang, sungguh pemandangan dari amarah yang dahsyat. Aku dan ijal dan dalam perjuangan, menggotong tubuh Jonfa menapaki jalan rimba menuju mobil. Upaya tak kenal lelah dan saling menyemangati. Tangis ku tahan melihat Jonfa berjuang menahan perih mendalam. Aku yakin ada yang pecah dalam perut Jonfa, persis pecahnya perut rimba ini. Kau akan selamat kawan, selepas tanjakan ini''ucap Ijal mengiba.
Setiba di mobil patroli ijal mencoba kontak radio pos pengamanan terdekat. Namun gagal. Aku sendiri bergegas memacu mobil patroli debar mengikuti alur tikungan-tikungan tajam. Persetan hari mulai gelap. Dalam satu kedekatanku dengan-nya, aku berharap satu keajaiban satu keajaiban muncul lagi, seprti kisah seperti kisah tersesatku dan jejak si belang. "Jal' kau kenapa??!", tanyaku kaget, melirik Ijal yang mukanya telah banjir air mata. Aku semakin bingung manakala Ijal tak  lagi berucap. "Jal, kau kenapa??, tanyaku sekali lagi. "kita manusia pak lemah tak berdaya, ini sungguh perjuangan terbaik  kawanku Jonfa!" aku kaget dan tak sanggup menerima kenyataan, refleku menginjak pedal rem. Aku merinding kukira aku akan sanggup menerima dan memupus tangan malaikat ajal. Cerita 'Okotober kelabu' lengkap sudah, langit pun tertutup mendung mengiringi kepergian Jonfa, pertanda duka rimba, doa tulus kami kawan, kau meninggalkan kami dalam seragam kebesaranmu,"

Sesaat telah aku tabur bunga di pemakaman Jonfa, aku melihat gajah tunggal itu, aku menjadi saksi kedatangannyna di makam Jonfa. Aku menjadi saksi linangan air matanya. Dan aku menjadi saksi pula atas sepasang gading dikuburkan di dekat zenajah Jonfa. Perang belum selesai. Manakal amarah rimba dan serakahnya orang kota belum memudar.. ya perang ini benar benar belum selesai...............

 

Tidak ada komentar:

EASYHITS4U

Link akun paypal Untuk transaksi bisnis anda yang lebih mudah

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PINGLER.COM

Ada kesalahan di dalam gadget ini