Jumat, 24 September 2010

Wisata Dan Studi Lingkungan Hidup Warga RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling Berlangsung Meriah


Sekitar 100 orang warga kampung RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo bersama Tunas Hijau kids & young people do actions for a better earth melakukan wisata dan studi banding lingkungan hidup. Kegiatan dalam rangkaian program pendampingan lingkungan hidup masyarakat stren Kali Surabaya bersama Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur ini dilaksanakan Minggu (14/2). Obyek kunjungannya pun adalah tempat-tempat yang bernuansa lingkungan hidup. Yaitu Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) Benowo, Kampung Jawara Surabaya Berbunga 2009 Gundih, Taman Flora Bratang, Rumah Kompos Bratang dan Jembatan Suramadu.
Seratus orang yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari semua golongan usia. Ada anak-anak yang aktif dalam kegiatan kelompok belajar anak kampung ini, ada remaja karang taruna, ada bapak dan ibu pengurus kampung dan PKK, serta orang tua anak-anak. “Pada awalnya, kegiatan ini dikhususkan bagi anak-anak yang aktif di kelompok belajar anak dengan para pengajarnya. Namun karena antusiasme warga sangat besar untuk ikut serta, maka kami pun mengikutsertakan juga banyak ibu-ibu dan bapak-bapak,” kata aktivis senior Tunas Hijau Bram Azzaino yang mendampingi warga pada wisata lingkungan hidup ini.
Besarnya antusiasme warga itu ditunjukkan dengan kerelaan mereka untuk duduk berpangkuan mengoptimalkan 2 mini bus yang disediakan khusus oleh pemerintah kota Surabaya – Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya. “Sedianya 2 mini bus yang digunakan ini hanya berkapasitas maksimal 40 kursi. Namun, orang tua yang berminat ikut tetap diperkenankan dengan memangku anaknya. Tambahan beberapa kursi panjang pun sengaja ditempatkan di kedua mini bus itu oleh warga,” tambah Bram Azzaino.
Di tempat kunjungan pertama, TPA Benowo, warga dibuat kaget dengan pemandangan gunungan sampah dengan tinggi rata-rata 8 meter di lahan seluas 37 hektar atau 370.000 meter persegi. Memasuki gerbang TPA itu, rombongan yang ikut pun mulai sibuk menutup hidung mereka untuk menghalangi bau busuk. Di TPA ini rombongan dipandu oleh salah seorang pengelola TPA, Karjono, yang staf Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya. Bertempat di dekat instalasi pengolahan air lindi dan jembatan timbang, rombongan mendapat penjelasan tentang TPA Benowo itu.
Disampaikan Karjono bahwa TPA itu beroperasi sejak tahun 2001. “Peran serta aktif warga Kota Surabaya sangat diharapkan untuk memperpanjang waktu beroperasinya TPA Benowo ini,” kata Karjono. Caranya, dengan sedapatnya mengolah sampah yang dihasilkan. “Dengan demikian jumlah sampah yang dikirim setiap harinya ke TPA ini berkurang. Bila setiap hari 1200 ton sampah warga Kota Surabaya dikirim ke TPA ini seperti saat ini, maka umur TPA ini tidak akan lebih dari lima tahun. Setelah itu, kita diharuskan mencari lahan baru untuk TPA sampah,” terang Karjono.
Mendengar penjelasan Karjono itu, aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni ikut urun bicara. Disampaikan Zamroni bahwa sejak beberapa minggu lalu ada tambahan komposter aerob, keranjang komposter takakura dan gerobak sampah yang diberikan kepada warga RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling. “Perangkat-perangkat pengolahan sampah itu diberikan dengan tujuan warga kampung mau mengolah sampah dan mengurangi jumlah sampah yang dikirimkan ke TPA Benowo. Makanya, mari kita optimalkan pengolahan sampah di kampung kita,” kata Zamroni.
Setelah mendapat banyak penjelasan tentang TPA Benowo, rombongan lantas diajak meneruskan perjalanan ke zona aktif TPA Benowo, yaitu kawasan dimana sampah dari seluruh warga kota ditempatkan. Di zona aktif itu rombongan menyaksikan pemandangan banyaknya gubuk non permanen yang sengaja dibuat para pemulung untuk melakukan pengumpulan sampah non organik. Ratusan hingga ribuan pemulung yang asyik berburu sampah non organik khususnya plastik menjadi pemandangan unik bagi rombongan.
Kurang dari lima menit berada di terminal zona aktif itu, dari sekitar 30 menit waktu yang disediakan, rombongan lantas mengusulkan untuk meneruskan perjalanan ke lokasi kunjungan selanjutnya. “Anak-anak dan ibu-ibu banyak yang muntah dan mau pingsan, Mas. Mereka gak kuat dengan sangat menyengatnya bau sampah di lokasi ini,” kata Slamet Hariadi, koordinator kelompok swadaya masyarakat RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling di yang menyertai rombongan.
Setelah selesai melakukan kunjungan di TPA Benowo, rombongan lantas melanjutkan perjalanan ke kampung Gundih yang menjadi Jawara Surabaya Berbunga 2009. Di kampung ini rombongan juga dibuat kagum dengan begitu bersih dan hijaunya kampung yang sebenarnya berada di lokasi kumuh. Lebar jalan di kampung itu juga tidak cukup untuk dua becak masuk bersamaan. Tidak ada sampah yang dibuang sembarangan di kampung itu. Pun tidak ada satu jengkal lahan yang tanpa tanaman, meskipun dalam pot-potan.
Rombongan lantas dipandu salah seorang kader lingkungan hidup kampung Gundih, Wiwik, yang menjadi instruktur pelatihan daur ulang sampah plastik kampung stren Kali Surabaya Gunungsari II pertengahan Desember 2009. “Selamat datang di kampung saya. Akhirnya ibu-ibu berkunjung ke kampung saya setelah dua kali kami mengunjungi kampung ibu-ibu untuk pelatihan daur ulang sampah plastik,” kata Wiwik yang mengenakan kaos kader lingkungan saat menyambut rombongan.
Beberapa menit setelah menginjakkan kaki di kampung Gundih, beberapa komentar positif pun dilontarkan oleh ibu-ibu dari Kelurahan Sawunggaling ini. “Bu RT, coba lihat tanaman-tanaman dalam pot yang sangat banyak dipelihara di kampung ini. Sebenarnya tanaman-tanaman itu bukan tanaman yang harganya mahal. Namun, jumlahnya banyak dan pengaturannya sangat bagus sehingga kesannya sangat eksklusif,” kata salah satu ibu kepada Siti Aminah yang istri ketua RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling. “Ayo, Bu RT, kita buat kampung kita seperti ini,” lanjut ibu itu.
Joko Sukaryono, koordinator pemberdayaan ekonomi Kelompok Swadaya Masyarakat RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling mengatakan bahwa wisata dan studi banding lingkungan hidup yang dilakukan ini benar-benar sangat berkesan. “Kegiatan ini berbeda dengan wisata umumnya. Kegiatan ini sangat ekonomis namun dampaknya bagi kami sangat besar. Saya pribadi dan beberapa orang lain warga kampung yang mengikuti kegiatan ini seperti mendapat suntikan semangat untuk membenahi kampung menjadi bersih, hijau dan nyaman,” kata Joko Sukaryono sesaat setelah mengamati kondisi kampung Gundih Gang VI.
Kekaguman juga diungkapkan oleh penggiat daur ulang kampung Sawunggaling/Gunungsari, Siti Fatimah saat melihat aneka macam produk daur ulang sampah plastik yang dipajang dan dijual di salah satu sudut kampung. “Bentuk produk daur ulangnya sangat banyak dan bervariasi. Penuh inovasi. Saya jadi termotivasi untuk terus mengembangkan daur ulang bersama warga kampung sepulang dari kunjungan ini. Saya banyak mendapat tambahan ide dari kunjungan ini,” kata Siti Fatimah sesaat setelah mengamati produk-produk daur ulang sampah plastik yang dipajang.
Di kampung Gundih itu rombongan tidak hanya disuguhi dengan keadaan kampung yang bersih dan hijau dengan tingginya partisipasi aktif seluruh warga kampung itu. Rombongan juga banyak mendapat penjelasan tentang instalasi pengolahan air limbah rumah tangga yang dibuat oleh warga kampung. “Instalasi pengolahan ini sangat sederhana. Cara kerjanya sangat alami. Namun, dampaknya sangat besar. Kami tidak khawatir tagihan air PDAM menjadi mahal karena tingginya perawatan seluruh tanaman di kampung ini. Kami mengolah air limbah dari seluruh rumah warga untuk bisa layak digunakan menyiram tanaman,” kata salah seorang pengurus pengolahan air limbah di kampung itu.
Setelah kunjungan di kampung Gundih – Jawara Surabaya Berbunga 2009, rombongan melanjutkan perjalanan ke Taman Flora Bratang dan Rumah Kompos Bratang. Di Taman Flora Bratang, rombongan beristirahat sambil makan siang dan sholat dhuhur. Di taman ini rombongan juga mereview hasil kunjungan di dua tempat sebelumnya, yaitu TPA Benowo dan kampung Gundih. Sementara rombongan orang tua melakukan review, anak-anak memanfaatkannya untuk bermain-main menggunakan beberapa permainan yang disediakan di taman itu.
Selesai beraktivitas di Taman Flora Bratang, rombongan lantas melanjutkan aktivitas di Rumah Kompos Bratang, yang letaknya di selatan Taman Flora Bratang. Di rumah kompos ini rombongan belajar tentang cara pengolahan sampah organik dalam jumlah besar. Sementara para orang tua terlibat diskusi dengan petugas rumah kompos itu, anak-anak diberi kesempatan melakukan pengomposan. Mulai perajangan, pembalikan dan pengayakan kompos dilakukan oleh anak-anak. Kunjungan ke Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura menjadi kegiatan penutup wisata dan studi banding lingkungan hidup yang digelar pagi hingga sore itu.

Tidak ada komentar:

EASYHITS4U

Link akun paypal Untuk transaksi bisnis anda yang lebih mudah

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PINGLER.COM

Ada kesalahan di dalam gadget ini