Minggu, 16 Oktober 2011

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK DAN JAMUR ANTAGONIS Trichoderma spp. TERHADAP PENYAKIT AKAR BENGKAK (Plasmodiophora brassicae Worr.) PADA TANAMAN KUBIS


PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK DAN JAMUR ANTAGONIS Trichoderma spp. TERHADAP PENYAKIT AKAR BENGKAK  (Plasmodiophora brassicae Worr.)
PADA TANAMAN KUBIS
The Effect Of Organic Matter And Antagonistic Fungi Trichoderma spp. Use Againts Club Root Disease (Plasmodiophora brassicae  Worr.) In Cabbage.

Djoko Amiono Legowo
Mahasiswa Program Pascasarjana, Unibraw

Siti Rasminah  dan Liliek Sulistyowati
Dosen Fakultas PErtanian, Unibraw

ABSTRAK

Peningkatan produksi kubis saat ini terhambat penyakit akar bengkak yang disebabkan oleh jamur P. brassicae. Serangan jamur ini mengakibatkan hasil tanaman kubis berkurang 50 - 100 %. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi jamur antagonis  Trichoderma spp. dari daerah perakaran tiga jenis Cruciferae  yang diaplikasikan bersama beberapa macam bahan organik untuk menghambat perkembangan jamur P.  brassicae  pada akar kubis.  Penelitian dilakukan menggunakan percobaan faktorial dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diulang empat kali di Kebun Penelitian PT BISI di Pujon, Malang, dari bulan Juni 1999 sampai dengan Februari 2000.  Bahan organik terdiri tiga jenis hasil dekomposisi kotoran ternak yaitu kotoran ayam, kambing, dan sapi.   Media tanam terdiri  satu kilogram bahan organik dan sembilan kilogram tanah kebun.  Kubis ditanam pada media yang telah diinokulasi jamur Trichoderma spp. dan jamur P. brassicae.  Jamur Trichoderma spp. berasal dari  contoh tanah yang diambil dari daerah perakaran tiga jenis tanaman Cruciferae yaitu contoh tanah perakaran kubis, sawi putih, dan brokoli. 
Hasil penelitian menunjukkan,  pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran hewan ternak bersama jamur antagonis Trichoderma spp. dalam media tanam kubis,  menurunkan serangan P. brassica dari 85% menjadi 34%.  Pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. tanpa disertai penggunaan hasil dekomposisi kotoran ternak  dapat menurunkan  serangan P. brassicae dari 85% menjadi 60,6%.  Hasil dekomposisi kotoran ternak menurunkan perkembangan  P. brassicae melalui peningkatan pH media tanam di mana bahan tersebut diberikan. Sumber inokulum jamur antagonis Trichoderma spp. tidak berpengaruh nyata dalam pengendalian P. brassicae.

Kata kunci :  Trichoderma spp., akar bengkak, kubis.



ABSTRACT

Cabbage production increasing inhibited by club root disease caused by Plasmodiophora brassicae fungi. The fungi’s attack, causes cabbage plant yield 50 - 100 % lost.  The potency of antagonistic fungi Trichoderma spp. from three root areas of Cruciferae applied with several kinds of organic matter to inhibit the development of P. brassicae in cabbage root, is the purpose of this research.  Experiment was done use factorial Randomized Complete Design and each treatment was replicated four times in Research & Development Farm of PT Benihinti Suburintani in Pujon, Malang, in June 1999-February 2000.  Three kinds of organic matter was taken from decomposed chicken, goat, and cow faeces.  Media was composed of  1 kg of organic matter and 9 kg of soil.  Cabbage was planted in media  inoculated whit Trichoderma spp. and P. brassicae fungus.  Trichoderma spp. fungi was taken from soil of  three kinds of Cruciferae root area i.e. soil from  cabbage, chinese   cabbage, and broccoli root area.     
Experiment result showed that organic matter come from decomposed animal faeces use together with antagonistic fungi Trichoderma spp. in media can decrease attack of P. brassicae from 85 % to 34 %.  The use of antagonistic fungi Trichoderma spp. without organic matter can decrease attack of P. brassicae from 85 % to 60,0 %.  Organic matter can decrease development of P. brassicae by increase of planting media’s pH where the organic matter was given.  The effect of antagonistic fungi inoculum source  in P. brassicae controlling was not significant.

Key word : Trichoderma spp., club root, cabbage



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kubis (Brassica oleracea) adalah tanaman sayuran penghasil pucuk-pucuk daun yang mengumpul sedemikian rupa sehingga disebut ‘krop’.  Tanaman kubis mempunyai nilai ekonomi dan sosial cukup tinggi, karena merupakan salah satu andalan sumber nafkah dalam meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, selain sebagai komoditas ekspor (Rukmana, 1994).
Prospek pengembangan budidaya kubis, diperkirakan tetap baik.  Pada tahun 1991, luas panen kubis di  Indonesia mencapai 52,675 hektar dengan produksi 974.553 ton, yang tersebar luas dan dihasilkan di 24 propinsi.
Usaha peningkatan produksi kubis di Indonesia sering mendapat banyak gangguan atau hambatan terutama oleh serangan patogen.  Salah satu diantaranya dan yang saat ini perlu mendapat perhatian serius adalah penyakit akar bengkak (club root)  yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae.  Akibat serangan ini kehilangan  hasil dari tanaman kubis dapat mencapai 50 - 100 %  (Rukmana, 1994).
Mengingat besarnya kerugian yang diakibat-kan oleh penyakit tersebut, maka perlu dicari  cara pengendaliannya.  Menurut  Semangun (1994) sejauh ini mengendalian yang dapat dilakukan terhadap  P. brassicae   adalah dengan tidak menanami lahan yang telah terinfestasi  dengan tanaman yang rentan selama tujuh tahun.  Dengan demikian rotasi sukar dianjur-kan untuk pengendalian penyakit akar bengkak.  Tindakan lain yaitu mencegah masuknya patogen ke lahan-lahan yang masih bebas, mengatur pH tanah (6,0 - 7,0) atau dengan sterilisasi tanah.  Sterilisasi tanah kurang layak dilaksanakan karena tidak ekonomis. Selain itu sterilisasi tanah memerlukan bahan kimia berbahaya yang dapat mencemari tanah dan air.  Berdasarkan kenyataan tersebut, perlu dicari cara pengendalian lain yang yang lebih murah, aman bagi lingkungan, dan memerlukan waktu lebih singkat, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya hayati untuk menekan perkembangan penyakit.
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan diantaranya adalah yang memanfaatkan hasil dekomposisi bahan organik.   Menurut Budde dan Weltzein (1988), penggunaan hasil dekomposisi bahan organik menunjukkan pengaruh penekanan terhadap beberapa patogen tanaman.  Disamping penggunaan bahan organik, penelitian lain juga mengungkapkan bahwa jamur-jamur tertentu dapat menekan perkem-bangan patogen, misalnya jamur yang bersifat antagonis Trichoderma spp.  Jamur tersebut  telah banyak dilaporkan  berpotensi untuk mengen-dalikan patogen tular tanah (Baker and Cook, 1974).  Trichoderma  spp. dipilih sebagai agen pengendali yang potensial karena diketahui ber-hasil menekan perkembangan beberapa patogen dan dapat berkembang  pada pH tanah 5,0 - 5,5 (Mihuta & Rowe, 1986).  Berdasarkan fakta, serangan akar bengkak yang  parah adalah pada kondisi pH tanah yang rendah (Agrios, 1996).  Potensi pengendalian dengan pemanfaatan hasil dekomposisi bahan organik dan jamur antagonis Trichoderma spp. dalam penelitian dipadukan untuk menekan penyakit akar bengkak pada tanaman kubis

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jamur antagonis Trichoderma spp. dari daerah perakaran tiga jenis Cruciferae  yang diaplikasikan bersama beberapa macam bahan organik untuk menghambat perkembangan jamur P.  brassicae  pada akar tanaman kubis. 

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat  memberikan informasi mengenai potensi jamur antagonis Trichoderma spp. yang diaplikasikan bersama media hasil dekomposisi bahan organik untuk mengendalikan penyakit akar bengkak pada tanaman kubis.

 

METODE PENELITIAN


Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kebun Penelitian PT Benihinti Suburintani di Pujon dengan ketinggian tempat 1100 meter dpl dan di laboratorium Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.  Penelitian ini dimulai pada bulan Juni 1999 sampai dengan Januari 2000. 

Persiapan Media Hasil Dekomposisi Bahan Organik
Bahan-bahan  yang dijadikan media hasil dekomposisi bahan organik terdiri dari jerami dan kotoran ternak ayam, kambing, dan sapi, yang masing,masing sebagai perlakuan.  Jerami dipotong-potong kemudian dimasukkan ke dalam galian tanah yang berukuran  0,3 m3, secara berlapis-lapis dengan kotoran ternak.  Perbandingan tebal lapisan antara jerami dan kotoran ternak 10 : 5 cm.  Untuk menjaga ke-lembaban maka galian ditutup dengan plastik.  Media  siap digunakan ketika proses pemeraman ini berlangsung selama 120 hari.

Persiapan Sumber Inokulum P. brassicae
Inokulum P. brassicae yang diperlukan di-ambil dari perakaran tanaman sawi putih yang harus ditanam terlebih dahulu (Deacon, 1997).
Jumlah tanaman yang ditanam kurang lebih 200 tanaman. Pemeliharaan dilakukan hingga tanam-an berumur 60 hari.   Perakaran yang terserang dan membengkak diambil dan dikumpulkan untuk digunakan sebagai sumber inokulum.

Persiapan Biakan Murni  Trichoderma spp.
Penelitian ini menggunakan isolat jamur  Trichoderma spp. yang sebelumnya telah diperba-nyak dengan menggunakan  media PDA dan beras. Contoh tanah yang diduga mengandung Trichoderma spp. diambil dari perakaran tanaman kubis, sawi putih, dan brokoli dan masing-masing ditempatkan terpisah.  Metode yang di-gunakan adalah cawan pengenceran seperti yang digunakan oleh Wagner (1993) yaitu  dengan menimbang 1 gram contoh tanah perakaran kemudian memasukkannya ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml air steril dan diaduk rata. Pengenceran dilakukan sampai 10-4.  Satu mili-liter suspensi contoh tanah perakaran dicampur dengan media PDA dan diinkubasikan pada suhu kamar.   Kemudian dilakukan identifi-kasi dengan menggunakan kunci determinasi untuk memperoleh jamur  Trichoderma spp. (Barnett and Hunter, 1972).  Isolat yang didapatkan kemudian dimurnikan dalam media PDA, dan dibiarkan selama 5 hari.  Pekerjaan tersebut seluruhnya dilakukan secara aseptis.  
Untuk inokulasi pada media tanam, isolat Trichoderma spp. perlu diperbanyak.  Cara per-banyakannya adalah sebagai berikut:   2 kg beras yang sudah dicuci diberi air secukupnya dan direbus selama kurang lebih 30 menit, setelah dingin beras yang sudah setengah matang tersebut  diletakkan dalam nampan plastik.  Isolat Trichoderma spp. dituangi air steril sebanyak + 10 ml.  Dengan menggunakan spatula air diaduk perlahan sedemikian rupa sehingga terjadi suspensi jamur Trichoderma spp.  Masih dengan menggunakan spatula, suspensi yang masih terdapat dalam cawan Petri tersebut dipercikkan ke atas beras yang berada dalam nampan.  Nampan yang berasnya sudah diperciki suspensi Trichoderma spp.  tersebut ditutup dengan kaca transparan dan dikondisikan pada suhu 22 - 23 oC, kemudian dibiarkan selama enam hari.  Seluruh pekerjaan dilakukan secara aseptis dan dilakukan terhadap masing-masing contoh tanah secara terpisah.
Identifikasi Jamur Trichoderma  spp.
Trichoderma spp.  yang dibiakkan dalam media PDA. Koloni jamur ini berupa berkas-berkas melingkar berwarna hijau kehitaman, yang di antara berkas-berkas tersebut terdapat berkas-berkas melingkar yang lebih tipis serta halus. Pengamatan dengan menggunakan mikroskop terhadap jamur Trichoderma spp. yang dibiakkan di atas gelas obyek  menunjukkan bahwa miselium jamur ini bersekat, transparan, dan mempunyai cabang-cabang. Pada konidiofor yang pendek terdapat phialid-phialid yang berbentuk seperti tabung atau botol.  Pada ujung phialid terdapat konidia yang berdiameter 5 - 10 m, berwarna hijau kecoklatan sampai kehitaman (Barnett and Hunter, 1972).

Persiapan Media Tanam Dalam Polybag
Pengujian untuk mengetahui pengaruh jamur antagonis Trichoderma spp. terhadap serangan penyakit akar bengkak pada tanaman kubis dilakukan dalam polybag. 
Media tanam yang digunakan bagi tiap tanaman terdiri dari tanah kebun seberat 9 kg dan bahan organik, masing-masing sesuai perlakuan, seberat 1 kg, dicampur, sehingga berat total masing-masing media tanam adalah 10 kg.  Media tanam dimasukkan ke dalam polybag berkapasitas 15 kg dan diletakkan sesuai dengan penempatan dalam Rancangan Percobaan.
Pengaruh aktifitas mikroorganisme lain dalam media tanam, baik yang bersifat patogen atau bukan, perlu dihilangkan melalui sterilisasi media.   Cara yang digunakan untuk sterilisasi media adalah dengan fumigasi.  Fumigan yang digunakan adalah Basamid-G yang diberikan sebanyak 1,5 gram per 10 kg media (per polybag).    

Persemaian Bibit Kubis
Benih kubis yang ditanam adalah kultivar hibrida Grand-11 yang diproduksi oleh PT BISI.  Persemaian dilaksanakan 20 hari sebelum tanam dibedengan yang telah disterilisasi menggunakan Basamid-G.    Perawatan dilakukan hingga bibit berumur 20 hari.
               
Pembuatan inokulum P. brassicae
Inokulum P. brassicae diambil dari perakaran tanaman sawi putih yang sebelumnya telah ditanam dan  menunjukkan gejala terserang akar bengkak.  Lima puluh gram akar tanaman yang membengkak dengan diameter 3 - 5 cm yang diambil dari 2 - 3 tanaman sawi putih dicuci dan diblender dengan 500 ml air serta disaring dengan kain kasa sehingga diperoleh suspensi putih kekuningan.   Ke dalam masing-masing media tanam [polybag] dituangkan 10 ml suspensi P. brassicae dengan menggunakan penakar dari plastik.  Untuk keperluan inokulasi ini diperlukan  25 akar yang membengkak dan 3,2 liter air yang diambil dari mata air.

Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dua faktor.  Faktor pertama adalah Jamur Trichoderma spp. (T) dengan empat taraf yaitu:
T0   :  Tanpa inokulasi Trichoderma spp.
TA  :  Inokulasi Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran kubis
TB  :  Inokulasi Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran sawi putih
TC  :  Inokulasi Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran brokoli

Faktor ke dua adalah media hasil dekomposisi bahan organik (MHDBO)  dengan empat taraf yaitu:
B0   :  Tanpa pemberian MHDBO
B1    :  Pemberian MHDBO kotoran ayam
B2    :  Pemberian MHDBO kotoran kambing
B3    :  Pemberian MHDBO kotoran sapi
Dari dua faktor perlakuan tersebut akan didapat 16 perlakuan kombinasi dan tiap-tiap pot percobaan ditempatkan secara acak dalam  empat ulangan.  Masing-masing satuan perco-baan menggunakan lima tanaman [polybag].  Pengacakan dan denah percobaan ditampilkan dalam Lampiran 3.

Penanaman
Pada hari ke 20 setelah semai, bibit kubis dipindah tanam dari bedengan persemaian ke polybag.  Bibit dicabut dari persemaian, lalu ditanam di media tanam dalam polybag

Inokulasi Trichoderma spp.dan P. brassicae pada Media Tanam        
Biakan murni Trichoderma spp. dalam media biakan (beras) dipanen dengan menuangkan 500 ml aquadest pada masing-masing nampan.  Suspensi yang didapat kemudian disaring dan selanjutnya diambil 0,1 ml dengan menggunakan pipet Pasteur, dimasukkan ke dalam celah V haemositometer dan diamati dibawah  mikroskop guna menghitung kerapatan konidia dalam suspensi.  Inokulasi ke dalam media tanam dilakukan dengan cara menuangkan suspensi Trichoderma spp. ke dalam media tanam seperti yang dilakukan oleh Djatnika (1991), sesuai dengan masing-masing perlakuan. Kemudian diambil 10 ml suspensi Trichoderma spp., dengan kerapatan konidia 6 x 105/ml (Wagner, 1993), lalu dituangkan ke dalam media tanam.   Setelah itu diambil 10 ml  suspensi P. brassicae   dan dituangkan ke dalam media tanam.  Inokulasi  Trichoderma spp. kedalam media tanam dilakukan tujuh hari sebelum bibit kubis ditanam (Wagner, 1993) dan inokulasi  P.  brassicae  juga dilakukan tujuh hari sebelum bibit kubis ditanam (Jansen, 1995).

Pengamatan
Pengamatan dilakukan saat panen dengan variabel meliputi:
a.  Diameter akar bengkak pada akar utama
b.  Indeks penyakit dari 0 (nol) sampai dengan 5 (lima)   (Reyes, Davidson, & Mark,  1974  dalam Djatnika, 1991):
0 =   tidak terjadi pembengkakan pada akar
1 =   bengkak berukuran sangat kecil dengan diameter 0,5 - 1 cm
2 =   bengkak berukuran kecil dengan diameter 1 - 2 cm
3 =   bengkak berukuran sedang dengan diameter  2 - 3 cm
4 =   bengkak berukuran besar dengan diameter 3 - 4 cm
5 =   bengkak berukuran sangat besar dengan diameter 4 - 5 cm
c.  Intensitas penyakit, yang dihitung berdasarkan indeks penyakit  dengan  menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Reyes, Davidson, & Mark (1974, dalam  Djatnika, 1991) yaitu:

                 S (n x v)                        
       P =   ------------  x 100 %                        
                   N x Z                           

dimana : P  =   Intensitas serangan;  n  =   Jumlah tanaman dalam tiap kategori serangan;  v  =   Nilai sekala tiap kategori serangan ;  V =   Nilai kategori serangan tertinggi (5); N =   Jumlah tanaman yang diamati (5)

d.  Berat segar bagian atas tanaman yang di-peroleh setelah memotong tanaman pada  leher akar, kemudian potongan bagian atas tanaman ditimbang satu persatu  menggunakan timbangan gantung dan  dihitung jumlah rata-rata tiap per-lakuan.
e.   Bobot hasil segar (krop) yang diperoleh  sete-lah memotong krop kubis tepat    pada bagian dasar ‘bulatan’ krop, kemudian krop ditimbang satu persatu  menggunakan timbangan gantung dan dihitung  jumlah rata-rata tiap perlakuan.


Analisis Data
Pengaruh perlakuan, melalui analisis ragam [variasi], diuji dengan uji F.  Analisis ragam didasarkan atas analisis ragam faktorial dalam Rancangan  Acak Lengkap.  Hasil yang diper-oleh melalui uji F, apabila H0 ditolak belum dapat memberikan penjelasan tentang perlaluan mana yang berbeda.  Pembandingan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Jarak Duncan, dengan kriteria uji:





    MDRS (a) = rP (Duncan) (a)      KTgalat
                                           n

dimana:  rP (Duncan) = nilai yang didapat dari  Tabel Duncan; n = banyaknya ulangan untuk setiap  perlakuan
        

 


HASIL DAN PEMBAHASAN


Diameter Akar Utama Akibat Serangan P. brassicae Pada Media Tanam Yang Diberi Bahan Organik dan  Jamur Antagonis Trichoderma spp. 

Ukuran besar atau diameter akar utama yang terserang P. brassicae merupakan petunjuk ke-parahan serangan penyakit tersebut (Njeuwhof, 1989). Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat interaksi sangat nyata antara perlakuan pemberian bahan organik dengan jamur antagonis Trichoderma spp. terhadap diameter akar utama.  Hasil peng-amatan diameter akar utama disajikan dalam Tabel 1.  Sebagai jamur antagonis,


Tabel 1.  Diameter Akar Utama Tanaman Kubis Akibat Serangan P.  brassicae Pada Media Tanam Yang Diberi Bahan Organik  (BO) dan Jamur Antagonis  Trichoderma spp.(T)



Diameter Akar Utama (cm)
Perlakuan
Tanpa
BO(B0)
BO Kotoran
Ayam (B1)
BO Kotoran
Kambing (B2)
BO Kotoran
Sapi (B3)
Tanpa T (T0)
3,79 d
2,03 bc
1,57 a
2,09 bc
T Perakaran Kubis (TA)
2,37 bc
2,28 bc
1,63 a
2,25 bc
T Perakaran Brokoli (TB)
2,47 c
2,07 bc
1,30 a
2,02 b
T Perakaran Sawi Putih (TC)
2,67 c
2,04 bc
1,38 a
2,15 bc
MDRS (5%)  :  0,38 - 0,45
Catatan: Angka pada faktor dan kolom yang sama, dan didampingi huruf yang sama, tidak berbeda  nyata   pada Uji Jarak Duncan (MDRS) 5 %

Trichoderma spp. mempunyai kemampuan kompetisi yang kuat dalam hal ruang dan nutrisi.  Diketahui pula bahwa beberapa isolat Trichoderma spp. dapat menghasilkan enzim yang dapat merusak dinding sel jamur lain.  Kerusakan dinding sel mengakibatkan kematian yang dapat menghambat perkembangan populasi jamur patogen (Dennis and Webster, 1971). Kemampuan berkompetisi jamur antagonis sangat tergantung pada masukan energi dan nutrisi yang umumnya tersedia dalam media tanam.  Jamur antagonis memperoleh energi dan nutrisi dari bahan-bahan hasil dekomposisi bahan organik dalam tanah dan mempergunakannya untuk aktivitas serta mem-perbanyak populasi (Nelson, 1998).
Trichoderma spp. dapat menghasilkan enzim yang dapat mengurai dinding sel jamur patogen sehingga menekan perkembangan populasi ja-mur patogen, maka meningkatnya populasi ja-mur tersebut akan diiringi dengan meningkatnya proporsi enzim  yang dihasilkan. Semakin ba-nyak enzim yang dihasilkan, perkembangan jamur patogen semakin tertekan. Dengan tertekannya perkembangan jamur P. brassicae tersebut, maka  tingkat serangan patogen ter-hadap akar menjadi semakin berkurang. 
Berdasarkan data yang disajikan dalam Tabel 1.  dapat diketahui bahwa   diameter akar utama tanaman kubis dalam  media tanam yang tidak diinokulasi  jamur Trichoderma spp. (T0)  berukuran terbesar dengan beda yang sangat nyata dibandingkan dengan perlakuan pemanfaatan jamur Trichoderma spp. (TA, TB, dan TC). Sumber inokulum Trichoderma spp. yaitu Trichoderma spp.  yang berasal dari  contoh tanah perakaran kubis (TA),  Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran sawi putih (TB), dan Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran brokoli (TC), tidak memberikan pengaruh nyata terhadap ukuran akar utama.  
Keberadaan fungi antagonistik jenis tertentu  di daerah perakaran tergantung kepada jenis atau famili tanaman.   Jenis fungi antagonis dari da-erah perakaran satu  jenis atau famili tanaman diketahui spesifik dan kebanyakan berbeda dengan jenis jamur antagonis dari daerah per-akaran  spesies atau famili tanaman yang lain  (Fritz, 1996).  Selanjutnya dinyatakan bahwa ditemukan pula pada daerah perakaran jenis atau famili tanaman yang berbeda terdapat jenis fungi antagonis yang sama.  Belum diketahui secara pasti penyebab fenomena ini.  Diduga hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kebanyakan tanaman, melalui perakarannya, mengeksudasi zat-zat yang bisa dimanfaatkan  spesies tertentu dari jamur antagonis [termasuk Trichoderma spp.] untuk menunjang aktifitas dan perkembangan populasinya sehingga lebih dominan dan lebih dapat mempertahankan keberadaan populasinya dari pada strain yang lain.  Terdapat kemung-kinan bahwa komposisi eksudat-eksudat tersebut mirip satu sama lain meskipun dihasilkan oleh spesies atau famili tanaman yang berbeda (Sanchez,  1994).
Kubis, sawi putih, dan brokoli adalah tanaman yang berasal dari satu famili (Njeuwhof, 1989).  Menurut Fritz (1996), jenis fungi antago-nis dari daerah perakaran satu spesies atau famili tanaman diketahui spesifik dan kemungkinan berasal dari satu spesies.  Karena ketiga spesies tanaman tersebut berasal dari satu familia, maka jamur antagonis (Trichoderma spp.) yang terdapat di daerah perakarannya bisa merupakan spesies yang sama. Hal ini menjadikan asal jamur Trichoderma spp. tidak memberikan pengaruh nyata terhadap ukuran akar utama.
Pemberian  hasil dekomposisi bahan organik (B) untuk menekan perkembangan P. brassicae berpengaruh sangat nyata terhadap diameter akar utama.  (Tabel 1).  Pada perlakuan tanpa pemberian bahan organik (Kontrol;  B0) serangan akar bengkak terlihat parah yang ditunjukkan dengan ukuran diameter akar utama yang sangat besar.   Diameter akar utama dari tanaman yang ditanam di media hasil dekomposisi bahan organik kotoran kambing (B2), berukuran paling kecil dibandingkan dengan yang ditanam di media hasil dekomposisi bahan organik kotoran ayam (B1), atau kotoran lembu (B3)  pada semua kombinasi perlakuan  dengan T0, TA, TB, dan TC.
Ukuran diameter akar utama tanaman kubis yang lebih kecil menunjukkan bahwa patogen P. brassicae kurang mampu menyerang atau menginfeksi jaringan akar tersebut.  Hal ini merupakan hasil dari suatu kemampuan tanaman untuk mempertahankan diri dari serangan patogen yang di antaranya adalah fungsi struktural sebagai penghalang fisik dan penghambat patogen  mendapatkan peluang masuk dan menyebar dalam tanaman  (Agrios, 1996).   Selanjutnya dinyatakan bahwa  salah satu bagian dari sistem pertahanan struktural tanaman adalah dinding sel.  Ketebalan dan kekuatan dinding bagian luar sel-sel epidermis merupakan faktor penting dalam ketahanan tumbuhan terhadap patogen.  Sel-sel epidermis yang berdinding kuat dan tebal akan membuat penetrasi secara langsung mengalami kesulitan atau bahkan tidak mungkin dilakukan sama sekali oleh jamur patogen. Tanaman yang memiliki dinding sel yang demikian menjadi lebih tahan. 

Tabel 2.    pH Media Tanam Pada Perlakuan Pemanfaatan Jamur Antagonis Trichoderma spp. (T) Sebelum Penggunaan Hasil Dekomposisi  Bahan Organik (BO).



pH Media Tanam
Perlakuan
Tanpa
BO(B0)
BO Kotoran
Ayam (B1)
BO Kotoran
Kambing (B2)
BO Kotoran
Sapi (B3)
Tanpa T (T0)
5,87
5,86
5,85
5,87
T Perakaran Kubis (TA)
5,85
5,79
5,81
5,88
T Perakaran Brokoli (TB)
5,87
5,83
5,86
5,85
T Perakaran Sawi Putih (TC)
5,87
5,88
5,84
5,85

Sebagai bagian dari media tanam, bahan or-ganik memberikan pengaruh antara lain mening-katkan kapasitas tukar kation serta meningkat-kan ketersediaan unsur hara. Disamping itu bahan organik dapat menyediakan bahan pemacu pertumbuhan seperti asam-asam amino, vitamin, dan hormon-hormon tanaman. Lebih lanjut dinyatakan bahwa bahan organik yang berasal dari kotoran hewan ternak sangat kaya akan unsur-unsur makro maupun mikro yang berfungsi antara lain untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan resistensi ta-naman terhadap penyakit.  Bahan organik yang berasal dari kotoran hewan ternak tertentu kaya akan unsur kalium tersedia  yang berkaitan erat dengan ketahanan tanaman terhadap hama atau penyakit.   Salah satu manfaat unsur kalium bagi tanaman adalah meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit (Setyamidjaja, 1986). 
Unsur kalium erat kaitannya dengan kekuat-an dinding sel tanaman.  Tanaman yang selama pertumbuhannya  mengalami kekurangan unsur hara kalium menjadi mudah terserang penyakit (Ochse et all, 1986).   Analisa kimia terhadap ketiga contoh media tanam memperlihatkan bahwa kandungan kalium tersedia dari hasil dekomposisi kotoran kambing (B2) paling tinggi dibandingkan dengan yang dikandung hasil dekomposisi kotoran ayam dan hasil dekompo-sisi kotoran sapi.  Tanaman yang diberi media hasil dekomposisi kotoran kambing (B2) kebu-tuhan kaliumnya lebih terpenuhi daripada per-lakuan lain (B1 atau B3) sehingga lebih tahan terhadap serangan  jamur P. brassicae. 
Selain pengaruh unsur yang dikandung bahan organik, serangan jamur P. brassicae juga dipengaruhi oleh pH media tanam.  Patogen akar bengkak sangat menyukai kondisi keasaman tanah yang rendah.  Pada pH 5,7 serangan menghebat, dan perkembangan penyakit tersebut akan menurun tajam pada pH antara 5,8 dan 6,2, serta tidak berkembang sama sekali pada pH 7,8 (Agrios, 1996).   Sejalan dengan hal tersebut, Semangun (1994) menyatakan bahwa serangan jamur P. brassicae akan meningkat bila inang ditanam pada tanah dengan pH di    bawah 7.   Davidson (1990) me-nyatakan bahwa keasaman tanah secara tidak langsung mempengaruhi besar kecilnya diameter akar Cruciferae yang terserang patogen   P. brassicae.  Pada  tanah dengan pH rendah (5,5 - 5,7) patogen P. brassicae berkembang dengan pesat.  Perkembangan yang pesat ini menyebabkan serangan yang semakin parah terhadap perakaran yang ditunjukkan dengan semakin besarnya ukuran diameter akar.  Semakin rendah pH media tanam, semakin meningkat populasi  P. brassicae, dan semakin meningkat pula serangan terhadap perakaran sehingga ukuran akar semakin besar.  Selanjut-nya Davidson menyatakan bahwa jika keasaman tanah ditingkatkan dari 5,8 hingga 6,3 serangan berkurang drastis sehingga ukuran akar menjadi lebih kecil.  Serangan dapat dikatakan tidak ada jika pH lahan pertanaman ditingkatkan hingga 7,5.
Pengukuran keasaman media tanam di lapangan ternyata menunjukkan bahwa pening-katan pH media tanam dapat disebabkan oleh  pemberian hasil dekomposisi kotoran ternak (B).  Tabel 2 dan Tabel 3 memperlihatkan bahwa peningkatan pH hanya terjadi pada media yang di dalamnya terdapat bahan organik.  Jenis bahan organik hasil dekomposisi kotoran ternak juga berpengaruh terhadap besar kecilnya peningkatan pH media tanam.  Pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran kambing  (B2) berpengaruh meningkatkan pH tertinggi dibandingkan dengan  perlakuan B1 dan perlakuan B3 (Tabel 2 dan Tabel 3). 

Tabel 3.  pH Media Tanam Pada Perlakuan Pemanfaatan Jamur Antagonis Trichoderma spp.(T) Setelah Penggunaan Hasil  Dekomposisi  Bahan Organik (BO).



pH Media Tanam
Perlakuan
Tanpa
BO
(B0)
BO Kotoran
Ayam (B1)
BO Kotoran
Kambing (B2)
BO Kotoran
Sapi (B3)
Tanpa T (T0)
5,87
6,34
7,06
6,54
T Perakaran Kubis (TA)
5,85
6,28
7,04
6,59
T Perakaran Brokoli (TB)
5,93
6,28
7,01
6,64
T Perakaran Sawi Putih (TC)
5,86
6,26
7,04
6,70


Peningkatan pH media tanam yang disebabkan oleh pemberian bahan organik tersebut berpengaruh terhadap perkembangan dan serangan P. brassicae pada akar tanaman kubis yang selanjutnya mengakibatkan ukuran diameter akar yang berbeda (Tabel 1).  Tabel 1  memperlihatkan bahwa kubis yang ditanam pada media tanam yang tidak diberi bahan organik mempunyai diameter akar terbesar sedangkan kubis yang ditanam pada media tanam yang diberi bahan organik mempunyai diameter akar yang lebih kecil. Kubis yang ditanam pada media tanam yang diberi hasil dekomposisi kotoran kambing (B2) dengan pH rata-rata paling tinggi mempunyai rata-rata diameter akar utama yang paling kecil dibanding dengan  kubis yang ditanam pada media tanam yang diberi hasil dekomposisi kotoran ayam (B1) dan kubis yang ditanam pada media tanam yang diberi hasil dekomposisi kotoran sapi (B3) dengan pH rata-rata masing-masing yang lebih rendah.

Intensitas Penyakit Akar Bengkak Pada Tanaman Kubis Yang Diberi Bahan Organik dan Jamur Antagonis  Trichoderma spp.  Dalam Media  Tanamnya.
Beratnya penyakit dapat dijelaskan melalui persentase bagian tertentu dari tanaman yang dipengaruhi oleh [aktifitas] patogen (Agrios, 1996). Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara bahan organik hasil dekomposisi kotoran ternak dengan jamur antagonis Trichoderma spp.berpengaruh sangat nyata terhadap intensitas serangan (beratnya penyakit) P.  brassicae. 
Tabel 4 memperlihatkan bahwa interaksi antara jamur antagonis Trichoderma spp. dengan bahan organik hasil dekomposisi kotoran ternak dapat mempengaruhi intensitas serangan P. brassicae terhadap perakaran kubis. Interaksi yang paling dapat menekan intensitas serangan P. brassicae adalah interaksi antara Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran kubis (TA),  Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran sawi putih (TB), dan Trichoderma spp. yang berasal dari contoh tanah perakaran brokoli (TC) dengan bahan organik hasil dekomposisi kotoran kambing.   
Jamur antagonis Trichoderma spp. dapat ditemukan dalam tiap area perakaran tanaman (tumbuhan) di hampir semua jenis tanah.  Dalam keadaan tidak terdapat pengaruh ekternal, populasi jamur tersebut di daerah perakaran berada dalam jumlah yang tidak dapat menekan perkembangan patogen tertentu yang dapat menimbulkan penyakit bagi tanaman yang bersangkutan. Populasi Trichoderma spp. dapat meningkat karena peningkatan sumber energi     dan nutrisi yang kebanyakan berupa hasil  penguraian material organik dan mineral anorganik   (Bohlen,  1987).  Selanjutnya dinyatakan bahwa populasi Trichoderma spp.  yang meningkat memungkinkan untuk menekan perkembangan patogen tertentu yang juga mengkonsumsi energi dan nutrisi di area yang sama. Kemampuan untuk menekan perkembangan patogen tersebut karena dihasilkan-nya senyawa-senyawa tertentu (enzim) yang dapat merusak dinding sel patogen, sehingga makin meningkat populasi jamur antagonis Trichoderma spp. makin banyak enzim  yang dihasilkan dan perkembangan patogen semakin tertekan.  Semakin tertekan perkembangan patogen P. brassicae, maka semakin kecil pula intensitas penyakit yang menyerang perakaran kubis.
Tabel  4.  Intensitas Penyakit Akar Bengkak Pada Tanaman Kubis Yang  Diberi Bahan Organik (BO) dan Jamur  Antagonis Trichoderma spp. (T) Dalam  Media Tanamnya



 Intensitas Penyakit (%)
Perlakuan
Tanpa
BO
(B0)
BO Kotoran
Ayam (B1)
BO Kotoran
Kambing (B2)
BO Kotoran
Sapi (B3)
Tanpa T (T0)
85 d
52 bc
41 ab
52 bc
T Perakaran Kubis (TA)
60 bc
55 bc
39 a
54 bc
T Perakaran Brokoli (TB)
60 bc
51 b
34 a
50 b
T Perakaran Sawi Putih (TC)
62 c
53 bc
37 a
51 b
MDRS (5%)  :  9,24 - 11,08
  Catatan: Angka pada faktor dan kolom yang sama, dan didampingi huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan (MDRS) 5 %

Sanchez (1994), menyatakan bahwa bahan organik sisa dekomposisi kotoran hewan merupakan sumber nutrisi dan energi yang paling baik bagi perkembangan mikroorganisme dalam tanah termasuk bagi mikroorganisme yang menguntungkan seperti fungi-fungi antagonis tertentu yang dapat menekan perkembangan penyakit tular tanah (soil borne disesae).  Sisa dekomposisi kotoran hewan kaya akan unsur, vitamin, dan enzym yang diperlukan untuk perkembangan mikroorganisme dalam tanah terutama yang bersifat antagonis terhadap penyakit tular tanah.   Selanjutnya Sanchez men-dapati bahwa tanaman yang ditanam di lahan-lahan yang kaya sisa dekomposisi bahan organik menunjukkan kecenderungan tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan tanaman yang ditanam di lahan yang miskin bahan organik, meskipun pupuk buatan cukup tersedia.
Kombinasi perlakuan jamur antagonis Trichoderma spp. dengan bahan organik hasil dekomposisi kotoran kambing merupakan perlakuan yang memberikan pengaruh terbaik karena bahan organik tersebut memiliki kandungan unsur hara dan zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan dan ketahanan tanaman terhadap penyakit dalam komposisi yang lebih lengkap dibandingkan dengan bahan organik lain.  Geuss (1993) dan Patric (1995) menemukan bahwa di antara beberapa jenis  bahan hasil dekomposisi kotoran hewan (sapi, kerbau, bison, rusa, onta, llama, kelinci, dan ayam) keledai, kuda, kambing, dan domba memiliki kandungan unsur hara yang paling tinggi serta kondisi kimiawinya paling baik.  
Komposisi yang sesuai sangat diperlukan untuk membantu pembentukan struktur penghalang fisik pada permukaan akar tanaman berupa sel-sel epidermis dengan dinding yang lebih kuat, sehingga lebih sulit ditembus patogen.   Kondisi kimiawi yang baik (pH) dapat menghambat perkembangan P. brassicae.  Tanaman yang tumbuh pada media dengan kondisi tersebut menjadi lebih tahan atau mengalami serangan penyakit dengan intensitas serangan yang lebih rendah.
Hasil pengamatan di tiap pot percobaan memperlihatkan bahwa intensitas penyakit juga ditentukan oleh derajat keasaman (pH) media tanam (Tabel 2, Tabel 3   dan Tabel 4).  Intensitas penyakit menurun sejalan dengan meningkatnya pH media tanam.  Tabel 3 memperlihatkan bahwa peningkatan pH terjadi pada media tanam yang diberi hasil dekomposisi bahan organik.  Penggunaan media hasil dekomposisi bahan organik menyebabkan pH meningkat yang selanjutnya  menekan perkembangan dan aktifitas patogen P. brassicae.   Terhambatnya perkembangan dan aktifitas patogen tersebut mengakibatkan berkurangnya intensitas penyakit pada perakaran kubis.  Intensitas penyakit tertinggi terjadi pada perakaran tanaman kubis yang ditanam pada media tanpa bahan organik  (Kontrol; B0; Tabel 4), dengan pH media yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan penggunaan hasil dekomposisi bahan organik (Tabel 3).

Berat Hasil Segar (Krop) Akibat Serangan P. brassicae Pada Tanaman  Kubis Yang Diberi Bahan Organik dan  Jamur  Antagonis  Trichoderma spp. Dalam Media Tanamnya

Bagian dari tanaman kubis yang diambil hasilnya adalah bagian vegetatif yaitu pucuk-pucuk daun yang mengumpul sedemikian rupa sehingga membentuk ‘krop’ (Rukmana, 1994).   
Menurut Rukmana (1994), kehilangan hasil tanaman kubis yang diserang akar bengkak dapat mencapai 50 - 100 persen.   Hilangnya hasil ini disebabkan oleh terganggunya pembentukan krop karena suplai unsur hara ke pucuk-pucuk daun berkurang sebagai akibat terganggunya fungsi akar.   Patogen P. brassicae menyebabkan perbanyakan dan pembesaran sel secara tidak normal sehingga akar menjadi bengkak.  Menurut Dixon (1991),  perubahan keadaan fisik perakaran dalam bentuk apapun selain karena aktifitas hidup tanaman, seperti putusnya akar, gangguan hama, plasmolisis sel akar karena pengaruh tekanan osmotik, atau serangan patogen akan  mengakibatkan ter-ganggunya adsorbsi air dan unsur hara sehingga tanaman dapat mengalami kekurangan air dan defisiensi unsur hara.   Kekurangan air dapat menyebabkan terhentinya pertumbuhan, dan apabila terjadi terus menerus menyebabkan perubahan dalam tanaman yang tidak dapat dipulihkan, sehingga menurunkan hasil, sebe-lum berakhir dengan kematian (Harjadi, 1986).  Pembengkakan akar kubis karena serangan  P. brassicae  menyebabkan fungsi akar terganggu yang berakibat tanaman kubis kekurangan air dan unsur hara sehingga pertumbuhan terhambat dan krop terbentuk dengan ukuran di bawah normal, dan  hasilnya rendah.  Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. (T) berpengaruh sangat nyata terhadap berat hasil segar.   Pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran beberapa jenis hewan ternak (B) juga memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap berat hasil segar.  Interaksi antara pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. dengan pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran beberapa jenis hewan ternak (TxB) tidak berpengaruh nyata terhadap berat hasil segar.   Hasil pengamatan berat hasil segar disajikan dalam Tabel 5.
Pada perlakuan pemberian bahan organik (B0,B1, B2, dan B3) pengaruh pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. (TA, TB, dan TC) dapat  dibedakan secara nyata dengan penanaman yang tidak memanfaatkan jamur antagonis Trichoderma spp. (T0). 
Jamur antagonis yang hidup dalam tanah di sekitar perakaran tanaman berpotensi untuk menekan perkembangan patogen tular tanah yang dapat menyerang tanaman melalui perakarannya.  Jamur antagonis seperti Trichoderma spp. mampu menghasilkan enzim yang bersifat merusak dinding sel patogen se-hingga dapat menekan perkembangan populasi patogen (Mathew, 1989).  Hasil pengamatan Wagner (1993) menunjukkan bahwa beberapa jenis jamur seperti Gliocladium spp.,  Mortierella  spp., dan  Trichoderma spp., memiliki sifat antagonis terhadap beberapa jenis patogen soil  atau airborne disease penyebab penyakit-penyakit pada apel, bit, berry, dan radish. 
Peranan jamur antagonis Trichoderma spp. sangat nyata terlihat pada tanah-tanah dari hutan yang baru saja dibuka untuk areal pertanian.  Tanaman yang ditanam pada areal semacam ini, meskipun berdekatan dengan areal lain yang sudah lebih dulu dimanfaatkan, menghasilkan tananam yang relatif lebih bebas dari  penyakit.   Pada tanah-tanah dari hutan yang baru dibuka, berdasarkan hasil observasi lebih lanjut, ternyata memiliki populasi jamur antagonis Trichoderma spp. dan jamur antagonis lain yang lebih banyak dibandingkan dengan tanah-tanah yang sudah lebih lama dimanfaatkan (Suryaningsih, 1993).
Perkembangan patogen penyebab akar bengkak yang terbatas karena tekanan  jamur antagonis Trichoderma spp. menjadikan perakaran tanaman kubis dapat berfungsi dengan lebih sedikit gangguan.  Perakaran tanaman kubis yang dapat menjalankan fungsinya sebagai penyerap air dan unsur hara dengan normal dapat menunjang aktifitas hidup tanaman dengan lebih baik, sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi.
Pada semua perlakuan pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. (T0, TA, TB, dan TC), perlakuan pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran beberapa jenis hewan ternak (B1, B2, dan B3) berpengaruh lebih baik dibanding tanpa pemberian bahan organik (B0).
Pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran kambing (B2) memberikan hasil paling baik dibanding dua perlakuan pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran ayam (B1) dan kotoran sapi (B3).  
Bahan organik merupakan sumber unsur hara nitrogen yang penting bagi pertumbuhan  tanaman.   Nitrogen ini berasal dari proses pelapukan dan nitrifikasi yang terdapat dalam bentuk tereduksi maupun oksidasi dalam larutan tanah.  Bahan organik juga memiliki kemampuan menahan air dan membentuk ruang pori tanah yang menyebabkan akar lebih mudah menyerap bahan-bahan terlarut dalam tanah (Sarief, 1986).

Tabel 5.  Berat Hasil Segar  (krop) Akibat Serangan P. brassicae Pada Tanaman Kubis Yang Diberi Bahan Organik (BO) dan Jamur Antagonis  Trichoderma spp. (T) Dalam Media Tanamnya


Perlakuan


Berat hasil segar (kg)
Tanpa T (T0)
0,99 a
T Perakaran Kubis (TA)
1,06 ab
T Perakaran Brokoli (TB)
1,22 c
T Perakaran Sawi Putih (TC)
1,16 bc
MDRS 5%
0,14 -  0,15
Tanpa BO (B0)
0,79 a
BO Kotoran Ayam (B1)
1,12 b
BO Kotoran Kambing (B2)
1,42 c
BO Kotoran Sapi (B3)
1,12 b
MDRS 5%
0,14 -  015
Catatan: Angka pada faktor dan kolom yang sama, dan didampingi huruf yang sama,  tidak berbeda  nyata pada Uji Jarak Duncan (MDRS) 5 %

‘Krop’  kubis yang diambil sebagai hasil tanaman, adalah bagian vegetatif dari tanaman tersebut.  Bagian ini merupakan kumpulan pucuk daun yang sedang mengalami per-tumbuhan pesat (Rukmana, 1994).  Salah satu unsur yang diperlukan untuk menyusun struktur tanaman yang sedang tumbuh adalah nitrogen (Setyamidjaja, 1986).  Semakin tersedia unsur nitrogen di daerah perakaran kubis, semakin baik pula pembentukan krop tanaman kubis sehingga hasilnya menjadi lebih tinggi.  Sumber nitrogen tersedia bagi tanaman selain pupuk buatan dan hasil pengikatan nitrogen oleh bakteri tertentu, juga berasal dari bahan organik yang dapat berupa sisa dekomposisi tumbuhan atau berupa hasil penguraian kotoran ternak.  Bahan organik sisa dekomposisi tumbuhan dan kotoran hewan adalah bahan yang kaya akan unsur nitrogen tersedia (Russell, 1988). 
Pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran kambing (B2) memberikan hasil krop paling tinggi dibanding dua perlakuan pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran ayam (B1) dan kotoran sapi (B3), pada semua perlakuan jamur antagonis Trichoderma spp..  Bahan organik sisa dekomposisi kotoran kambing merupakan pupuk kandang yang paling bagus dalam hal kualitas dibanding beberapa pupuk kandang lain.   Persentase kandungan unsur hara bahan organik sisa dekomposisi kotoran kambing paling tinggi dibandingkan dengan bahan organik sisa dekomposisi kotoran sapi, ayam, kelinci atau babi (O’neal, 1987). Selanjutnya O’neal me-nyatakan bahwa untuk untuk memperoleh hasil sayuran dengan kualitas optimal, selain pengendalian hama-penyakit, pemilihan peng-gunaan pupuk kandang juga perlu diperhatikan.  Menurut O’neal, pupuk kandang dari kotoran domba dan kambing selalu menghasilkan tanaman yang relatif lebih sehat dengan tingkat penggunaan pestisida yang rendah.

Berat Segar  Bagian Atas Tanaman Akibat Serangan P. brassicae  Pada Tanaman Kubis Yang Diberi Bahan Organik dan Jamur Antagonis Trichoderma spp. Dalam Media Tanamnya


Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. (T) tidak berpengaruh nyata terhadap berat segar bagian atas tanaman. Pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran beberapa jenis hewan ternak (B) berpengaruh yang sangat nyata terhadap berat segar bagian atas tanaman. Interaksi antara pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. dengan pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran beberapa jenis hewan ternak (TxB) tidak berpengaruh nyata terhadap berat segar bagian atas tanaman.  Hasil pengamatan berat segar bagian atas tanaman disajikan dalam Tabel  6.   Pada semua perlakuan pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. (T0, TA, TB, dan TC), perlakuan pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran beberapa jenis hewan ternak (B1, B2, dan B3) berpengaruh lebih baik terhadap berat segar bagian atas tanaman dibanding perlakuan tanpa pemberian bahan organik (B0).  Pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran kam-bing (B2) memberikan hasil paling baik dibanding dua perlakuan pemberian bahan organik sisa dekomposisi kotoran ayam (B1) dan kotoran sapi (B3).

Tabel 6.  Berat Segar Bagian Atas Tanaman Akibat Serangan P. brassicae  Pada Tanaman Kubis Yang Diberi Bahan Organik (BO) dan Jamur  Antagonis  Trichoderma spp. (T) Dalam Media Tanamnya


Perlakuan
Berat segar bagian atas
tanaman (kg)
Tanpa T (T0)
1,47
T Perakaran Kubis (TA)
1,60
T Perakaran Brokoli (TB)
1,76
T Perakaran Sawi Putih (TC)
1,65
MDRS 5%
tn
Tanpa BO (B0)
2,82 c
BO Kotoran Ayam (B1)
2,10 b
BO Kotoran Kambing (B2)
1,47 a
BO Kotoran Sapi (B3)
2,13 b
MDRS 5%
0,20 -  0,22
Catatan: Angka pada faktor dan kolom yang sama, dan didampingi huruf yang sama, tidak berbeda nyata pada Uji Jarak Duncan (MDRS) 5 % ;   tn  = tidak nyata

Pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap berat bagian atas tanaman kubis, karena pada tahap pertumbuhan awal hingga mulai terbentuknya krop, patogen P. brassicae belum mampu menghasilkan gejala penyakit, meskipun sudah mulai merusak akar.  Pada tahap ini tanaman masih mampu menyerap air dan unsurn hara dengan baik kemudian meng-gunakannya untuk pertumbuhan, sampai memasuki tahap dimana perakaran sudah sulit untuk berfungsi normal.  Sebelum mencapai tahap ini pengaruh patogen P. brassicae belum nyata, maka pengaruh jamur antagonis Trichoderma spp. juga belum nyata.
Tanaman kubis dalam penelitian ini diinokulasi dengan bibit penyakit akar bengkak pada umur tujuh hari setelah pindah tanam, ketika tanaman sudah tidak mengalami stagnasi akibat transplanting.  Gejala serangan penyakit akar bengkak P. brassicae  mulai terlihat saat memasuki fase pembentukan krop (40 hst).   Pada tahap ini sudah mulai terlihat adanya hambatan dalam pembentukan krop, yang disebabkan oleh rusaknya akar sebagai akibat serangan P. brassicae.
Bagian atas dari suatu tumbuhan dapat dapat dipandang sebagai bagian tumbuhan yang berada tepat di atas sistem perakaran (Ochse et all, 1986).  Bagian atas tumbuhan juga disebut sebagai sistem pucuk (Loveless, 1987).  Selanjutnya di-nyatakan bahwa sistem pucuk yang khas terdiri atas sebuah batang utama yang menyangga daun, batang, dan kadang-kadang bunga.   Masing-masing bagian dari sistem ini menjalankan fungsinya berkaitan dengan aktifitas hidup tumbuhan.   Connor (1993), menyatakan bahwa perkembangan bagian atas tumbuhan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan termasuk daerah perakaran selain dari kondisi sistem akarnya sendiri. Pertumbuhan dan perkem-bangan bagian atas suatu tumbuhan juga sangat tergantung pada kesuburan media tanam [daerah perakaran] dan tersedianya air.  Faktor yang bisa membatasi pertumbuhan dan perkembangan bagian atas tumbuhan adalah terganggu atau tidaknya fungsi penyerapan air dan unsur hara oleh sistem perakaran. 
Pertumbuhan tanaman kubis hingga saat diambil hasilnya  dapat dilihat mulai dari benih yang berkecambah sampai dengan terbentuknya krop yang keras atau kompak.  Selama kurang lebih 40 hari setelah pindah tanam atau 65 hari setelah semai (tergantung varietasnya), pertumbuhannya cukup pesat. Pesatnya pertumbuhan batang dan daun-daun ini menghasilkan proporsi batang dan daun yang dominan dibandingkan dengan hasil krop.  Hal yang sama juga terjadi pada sistem perakaran (Njeuwhof, 1989).  Menurut Njeuwhof, pada fase ini, kecuali hama, gangguan patogen dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, kecuali apabila patogen sudah menyerang sejak fase bibit.  Fase ini berlangsung hingga tanaman berumur kurang lebih 35 - 45 hst (tergantung kultivarnya), yang pada fase berikutnya merupakan saat kritis bagi pembentukan krop.  Bila sejak awal sistem perakaran tidak terganggu maka akan memberikan hasil krop yang baik.  Selanjutnya Njeuwhof menyatakan bahwa karena perakaran sudah tidak berkembang lagi, maka bila ada gangguan yang terjadi sebelumnya pada akar akan langsung menghambat pertumbuhan krop. 
Salah satu peranan bahan organik adalah sebagai pengikat agregat sehingga terjadi granulasi dan peningkatan jumlah ruang pori tanah.  Jumlah ruang pori tanah yang cukup akan membantu distribusi akar.  Distribusi akar turut memegang peranan yang menentukan dalam pertumbuhan tanaman.  Distribusi akar yang luas menjadikan permukaannya yang bersentuhan dengan larutan tanah semakin luas, dan dengan sendirinya akan lebih banyak hara yang diserap.  Adsorbsi unsur hara yang baik oleh akar akan menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang baik (Hakim dkk, 1986).  Pada tahap dimana pembentukan krop belum terjadi, pertumbuhan bagian atas tanaman kubis berjalan dengan pesat seiring dengan pesatnya distribusi akar.   Kondisi tersebut akan semakin baik apabila tersedia bahan organik yang cukup, sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat nyata pada pertumbuhan bagian atas tanaman. 
Bahan organik sisa dekomposisi kotoran kambing (B2) berpengaruh paling baik terhadap berat segar bagian atas tanaman kubis.  Hal ini disebabkan sifat fisik dan kimia hasil dekomposisi kotoran kambing yang cukup menunjang dalam distribusi akar.   Patric (1995), memperoleh fakta bahwa kandungan gel dalam hasil dekomposisi kotoran kambing paling tinggi dibandingkan dengan yang lain.  Gel atau lendir yang terdapat dalam bahan organik tertentu sangat membantu dalam pembentukan struktur tanah yang sesuai untuk distribusi akar.  Lendir berperan dalam agregasi butiran tanah yang yang dapat meningkatkan ruang pori tanah dan membentuk struktur tanah remah yang mantap (Russell, 1988).  Struktur remah ini memiliki beberapa kebaikan, yaitu keadaan air dan udara yang diperlukan untuk adsorbsi unsur hara dan pernapasan akar tersedia cukup dan seimbang.   Akar menjadi mudah menerobos tanah, gerakan air baik, jumlah air yang ditahan cukup banyak.  Adanya gel atau lendir tersebut dapat mengurangi pencucian unsur hara oleh air [hujan] dan lebih memantapkan strukturnya terhadap penguraian dalam air (Sarief, 1986).  Secara keseluruhan kondisi tersebut cukup baik untuk pertumbuhan tanaman sehingga memberikan hasil yang lebih baik.


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pemberian bahan organik hasil dekomposisi kotoran hewan ternak bersama  jamur antagonis Trichoderma spp. dalam media tanam dapat menurunkan  serangan patogen Plasmodiophora brassicae penyebab penyakit akar bengkak pada tanaman kubis dari 85 % hingga menjadi 34 %.  Pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. tanpa disertai penggunaan bahan organik hasil dekomposisi kotoran hewan ternak hanya dapat menurunkan  serangan patogen tersebut dari 85 % hingga menjadi 60,6 %
2.      Serangan penyakit akar bengkak P. brassicae dapat ditekan dengan meningkatkan pH media tanam dari 6,3 hingga minimal 7,01,  yang dapat terjadi dengan penambahan  bahan organik  hasil dekomposisi kotoran      ayam, kambing, dan sapi.
3.      Sumber inokulum Trichoderma spp. yaitu daerah perakaran kubis, daerah perakaran sawi, dan daerah perakaran brokoli tidak berpengaruh nyata dalam  pengendalian P. brassicae penyebab penyakit akar bengkak pada tanaman kubis. 


Saran-saran
Dari hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan bahan organik hasil dekomposisi kotoran ternak dan pemanfaatan jamur antagonis Trichodermaspp. dapat menurun-kan intensitas penyakit akar bengkak dari 85 % menjadi 34 %.  Sedangkan pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. tanpa disertai peng-gunaan bahan organik hasil dekomposisi kotoran ternak hanya dapat mengendalikan serangan akar bengkak  dari 85 % menjadi 60,6 %. Berdasarkan hal ini apabila metode pengendalian yang dilakukan dalam penelitian ini diterapkan dalam penanaman di lapangan, maka agar mencapai hasil yang maksimal, pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. perlu disertai dengan penggunaan bahan organik hasil dekomposisi kotoran ternak terutama dari kotoran kambing. 
Metode pengendalian dalam penelitian ini, apabila diterapkan di lapangan, maka dari  10000 tanaman yang ditanam, hasil yang dapat diperoleh hanya berasal dari 6600 tanaman normal.  Meskipun hasil yang diperoleh masih lebih baik dari pada tanpa penerapan metode pengendalian tersebut, penerapannya masih perlu mempertimbangkan biaya penanaman, dan perkembangan harga krop kubis di pasaran.


DAFTAR  PUSTAKA



Abadi, A. L.  1990.  Pemanfaatan Jamur Saprobik Dan Kompos Untuk Pengendalian Layu Fusarium pada Tanaman Tomat.  Jur. Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Brawijaya . 2(3): 49 - 59.
Alexopoulos, C.J. and C.W. Mims.  1979.  Introductory Mycology.  Third Edition.  John Wiley & Sons, Inc.  New York.  632 p.
Anonymous. 1990.  Cauliflower and Broccoli (Planting, Protection, Harvest Handling of Cauliflower and Broccoli). Agribusiness Worldwide. No. 2. Vol. 2. March 1990.  Shawnee Mission, Kansas. U.S.A.
Baker, K.F.  and R.J.  Cook.  1974.  Biological Control of Plant Pathogens.  W. H.  Freeman and Co.  San Fransisco.  433. p.
Barnett, H.L. and B.B. Hunter.  1972.  Illustrated Genera of Imperfect Fungi.  Second Edition.  Burgess Publishing Company.  Minneapolis. USA.  225 p.
Bohlen, E. 1987.  Crop Pest in Tanzania and Their  Control.  Paul Parey . Berlin.     136 p.
Cook,  A. A. 1978.  Disease of Tropical and Sub-Tropical Vegetables and Other Plants.  Hafner.  New York.  256 p.
Cook, R.J. and K.F.  Baker.  1989.  The Nature and Practice of Biological Control of Plant Pathogens.  The American Phytopathological Society.  St. Paul.  Minnestosa.  539 p.
Davidson, R. M. Jr.  1990.  Club Root Of Cabbage And Other Crucifers.  Agricultural Research Technology.  WSU  Puyallup.  Puyallup.  WA.
Deacon, J. W.  1997.  Modern Mycology.  Blackwell Science Ltd.  Third Edition.  303 p.
Dennis, C.  and J. Webster.  1971.  Antagonistic Properties of Species - Group of Trichoderma I.  Production of Non Volatile Antibiotic.  Trans. Br.  mycol. Soc 57: 25 - 39
Djatnika.  1991.  Pengaruh Ekstrak Gulma Terhadap Patogenisitas Plasmodiophora brassicae Wor. Pada Tanaman Petsai.  Buletin Penelitian Hortikultura.  Vol XXI.  No. 1.  1991.
____________.   Pengaruh Mortierella  sp., Trichoderma sp. Dan Media Tumbuhnya Terhadap Serangan Plasmodiophora brassicae W. Pada Kubis.   Buletin Penelitian Hortikultura.  Vol XXI.       No. 2. 1991.
Djatnikan.  1992.  Pengaruh Trichoderma harzianum Terhadap Pertumbuhan Fusarium pada Media Biakan.  Bulletin Penelitian Hortikultura.                      Vol. XXI No. 3.  1992
Djauhari, S dan M.  Martosudiro.  1995.  Pengendalian Hayati Menggunakan Trichoderma sp.  Terhadap Penyakit Antraknose pada Cabe (Capsicum annum):  Pengaruh Ekstrak Medium Alam.  Fitopatologi 33(2):30-38
Holliday, P.  1980.  Fungus Diseases of Tropical Crops.  Cambrigde University Press.  338 p.
Jansen, C.J.  1995.  Field Guide To Observe Club Root Disease Of Cruciferas Crop.  The Mac Millan Company.  104 p.
Mathew, R.H.  1989.  Modern Methods for Pest Management.  The Iowa State University Press. USA.  351 p.
Mihuta, L.G. and R.C. Rowe.  1986.  Trichoderma spp. As Biocontrol Agents of Rhizoctonia Damping-off of Radish in  Organik Soil an Comparison of Four Delivery Systems.  Phytopathology 76:  306-312
Njeuwhof, M.  1989.  Cole Crop.  Leonard Hill.  London.  143 p
Ochse, J.J., Soule, M.J. Jr. Dijkman, M.J. Wehlburg, C.  1986. Tropical and Subtropical Agricuture. 2nd Edition.  The MacMillan Company, New York.  249 p.
Papavizas.  C.G.  1985.  Trichoderma sp. and Gliocladium sp. :  Biology, Ecology, and Potential for Biocontrol.  Annual Review.  Phytopathology 233:  23 - 54.
Patric, A.M.  1995.  Soil Conservation Material In Horticulture Farm.  Longman Group UK. Ltd.  England. 243 p.
Rao, S. N. S.  1994.  Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman,  ed. 2.  Penerbit Universitas Indonesia.  Jakarta.
Reuszer, H. W.  1957.  Compos, Peat, and Sewage Sludge  In A Stefferud  Soil .  The 1957 Year Book of Agriculture, pp. 237 - 245.  The United State Goverment Printing Office.  Washington D.C..  USA.
Rukmana, R. 1992.  Akar Bengkak Mengancam Produksi Kubis.  Sinar Tani.  5 Februari1992. hal: 18
Sanchez, P.A. 1994.  Properties and Management of Soils in Tropics.  John Wiley.  New York.  156 p.
Sarief, S.  1986.  Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian.  Pustaka Buana.  Bandung.  182 hal.
Sastrahidayat, I.R.  1992.  Ilmu Penyakit Tumbuhan.  Usaha Nasional Surabaya.  265 hal.
Semangun, H.  1994.  Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia.  Gadjah Mada University Press.  Yogyakarta.  624 hal.
Sherf, A.F.  1991.  Club Root of Cabbage.  Field Guide to Grow Cabbage In Infected Soil.  Greenforce Horticulture Dept. Virginia. U.S.A.  3p.
Staples, R.C. and Toenniessen, G.H.  1981.  Plant Disease Control.  A Wiley-Interscience Publication.  John Wiley & Sons.  New York.  339 p.
Suryaningsih, E.  1993.  Penyakit Fungi pada sayuran di Lapangan.  Makalah  disampaikan pada Pelatihan PHT Petugas Pemasaran PT Sarana Agropratama di Balithor Lembang.       56 hal.
Wagner,  J.E.  1993.  The Antogonistic Potency of Several Fungus Species In Cultivated Soil In Tropics.  Tata McGraw-Hill Pub. Co., Limited.           New Delhi.  218 p.

FERMENTASI GAS METHANE

Pengolahan limbah anaerob adalah sebuah metode biological untuk mengolah limbah organic. Mikrobiologi yang terlibat dalam proses termasuk fakultatif dan mikroorganisme anaerob, dimana tidak ada oksigen, mengubah material menjadi produk akhir gas seperti karbondioksida dan metana.
Keuntungan proses anaerob selama pengolahan anaerob adalah :
a. Yield biomass untuk proses anaerob lebih rendah dibanding system aerob
b. Aerasi tidak digunakan, biaya capital dan pemakaian energi rendah
c. Gas metana yang dihasilkan proses anaerob bisa dinilai secara ekonomis
d. Penyimpanan dari produksi lumpur, konservasi listrik dan produksi metana antara $0,2 samapai $0,5 per 1000 galon pengolahan limbah domestic (jewel 1987)
e. Loading organic lebih tinggi pada system anaerob dibandingkan system aerob
Kelemahan proses anaerob selama pengolahan anaerob adalah :
a. Energi yang dipakai untuk temperature reactor untuk memelihara aktifitas mikroba (350C)
b. Waktu tahan lebih tinggi pada proses anaerob dari pengolahan aerob.
c. Bau yang tidak disadari dihasilkan proses anaerob karena menghasilkan gas H2S dan merkaptan.
d. Settling biomass anaerob di clarifier lebih sulit untuk diolah dibandingkan sedimentasi biomass
e. Reactor operasi anaerob tidak semudah anaerob.
Produk akhir dari degradasi anaerob adalah gas, paling banyak metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan sebagian kecil hidrogen sulfide (H2S) dan hydrogen (H2). Proses yang terlibat adalah fermentasi asam dan fermentasi metana. Dalam fermentasi asam, enzim ekstraseluler dari grup heterogen dan bakteri anaerob kompleks hidrolisis komponen limbah organic (protein, lipid, dan karbohidrat). Dalam fermentasi metana, rantai pendek asam lemak (selain asetat) diubah menjadi asetat, gas hydrogen, dan karbondioksida, proses yang dianjurkan acetogenesis. Selanjutnya, beberapa bakteri anaerob dibawa, metanogenesis - proses dimana hydrogen menghasilkan metana dari asetat dan reduksi karbondioksida. Stabilisasi material organic dapat terjadi. Fakultatif dan bakteri anaerob yang tergabung dalam proses fermentasi asam toleran terhadap perubahan pH dan temperature. Range pH pada fermentasi metana adalah 6,0 – 8,5 (Benefield dan Randall 1980), 6,8 – 7,4 (Ramalho 1983). Alkalinity yang dihasilkan dari degradasi senyawa organic membantu mengontrol pH .range pH 6,6 – 7,4 maka konsentrasi alkalin bervariasi dari 1000 sampai 5000 mgl sebagai kalsium karbonat.

Jika kita totalkan semua energi ikatan dari produk dan mengurangkannya dengan total energy ikatan bahan asal, energi yang dilepas adalah 810 kJ (nilai-nilai ini tidak terlalu tepat, karena energi ikatan merupakan perkiraan rata-rata ikatan dari dua jenis atom, yang mungkin bervariasi dari satu molekul ke yang lain. Kita lihat bahwa energi yang dibebaskan dari reaksi pembakaran metana adalah lebih besar dari reaksi pembakaran H2. Hal ini bukan berarti bahwa metana terbakar lebih hebat dari H2 melainkan karena jumlah molekul oksigen yang terlibat dalam kedua reaksi itu adalah berbeda. Jika kita bandingkan energi yang dibebaskan dari reaksi pembakaran metana dan H2 per mol O2, energi pembakaran metana menjadi 405 kJ , lebih kecil sedikit dari pembakaran H2. Jadi reaksi satu molekul O2 dengan H2 adalah sedikit lebih hebat dibandingkan dengan metana. Dalam perspektif yang lain, satu mol metana mempunyai kandungan energi yang lebih besar dalam reaksi pembakaran dengan oksigen daripada satu mol hidrogen, karena 1 mol metana bereaksi dengan 2 mol O2, sedangkan 1 mol hidrogen bereaksi dengan 0.5 mol hydrogen (lihat "per mol bahan bakar"). Karena satu mol gas (gas apapun) akan memenuhi ruangan dengan volume yang sama, 1 m3 metana akan mempunyai energi tiga kali lebih besar dari 1 m3 gas hidrogen. Tabel 1 menunjukkan gambaran skematis kandungan energi dari bahan bakar minyak. Bahan bakar minyak bukan terdiri dari senyawa murni, tetapi campuran yang sebagian besar adalah hidrokarbon jenuh. Oleh karena itu, reaksi yang tepat untuk pembakaran dari bahan bakar minyak:
2(-CH2-)+3O2->2CO2+2H2O
Seperti yang disebut dalam tabel 1, diperkirakan reaksi tersebut menghasilkan energi sebesar 1220 kJ. Per mol oksigen, energi yang dibebaskan hanyalah 407 kJ, energi yang setara dengan energi yang dihasilkan metana. Per gram bahan bakar energi yang di bebaskan adalah 43.6 kJ , lebih sedikit dari metana. Hal ini disebabkan hidrokarbon jenuh (terutama rantai pendek) yang mempunyai perbandingan H/C lebih kecil dari 2/1 karena kumpulan metil di ujung rantai hidrokarbon. Selain itu, bahan bakar minyak mempunyai campuran senyawa aromatik yang mempunyai perbandingan H/C lebih besar dari 2/1.


Contoh studi kasus :
A. Mengolah Kotoran Ternak Menjadi Energi Ramah Lingkungan
Lewat proses fermentasi, limbah yang baunya amat merangsang itu dapat diubah menjadi biogas. Energi biogas punya kelebihan dibanding energi nuklir atau batu bara, yakni tak berisiko tinggi bagi lingkungan. Selain itu, biogas tak memiliki polusi yang tinggi. Alhasil, sanitasi lingkungan pun makin terjaga. Dengan teknologi biogas, kandungan zat-zat alami yang terdapat pada kotoran ternak dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Jadi ribut-ribut soal pasokan energi yang kurang tidak bakal ada lagi. Pasalnya, biogas bisa dipakai untuk apa saja. Sebut saja mulai dari memasak, lampu penerangan, transportasi hingga keperluan lain yang perlu energi. Nah, bila biogas telah diaplikasikan secara luas, ribut-ribut kekurangan pasokan energi bisa dihindari. Dan urusan sanitasi lingkungan pun bisa teratasi. Biogas biasanya dikenal sebagai gas rawa atau lumpur. Gas campuran ini didapat dari proses perombakan kotoran ternak menjadi bahan organik oleh mikroba dalam kondisi tanpa oksigen. Proses ini populer dengan nama anaerob. Selama proses fermentasi, biogas pun terbentuk. Dari fermentasi ini, akan dihasilkan campuran biogas yang terdiri atas metana (CH4), karbon dioksida, hidrogen, nitrogen dan gas lain seperti H4S. Metana yang dikandung biogas berjumlah 54% – 70%, sedang karbon dioksida antara 27% – 43%. Gas-gas lainnya cuma punya persentase sedikit saja. Selama proses itu, mikroba yang bekerja butuh makanan. Makanan tersebut mengandung karbohidrat, lemak, protein, fosfor dan unsur-unsur mikro. Lewat siklus biokimia, nutrisi tadi akan diuraikan. Dengan begitu, akan dihasilkan energi untuk tumbuh. Dari proses pencernaan anaerobik ini akan dihasilkan gas metan. Bila unsur-unsur dalam makanan tadi tak berada dalam takaran yang seimbang alias kurang, bisa dipastikan produksi enzim untuk menguraikan molekul karbon kompleks oleh mikroba akan terhambat. Dan untuk menjamin semuanya berjalan lancar, unsur-unsur nutrisi yang dibutuhkan mikroba harus tersedia secara seimbang. Dalam pertumbuhan mikroba yang optimum biasanya dibutuhkan perbandingan unsur C : N : P sebesar 100 : 2,5 : 0,5. Selain masalah nutrisi, ada faktor lain yang perlu dicermati karena berpotensi mengganggu jalannya proses fermentasi. Ada beberapa senyawa yang bisa menghambat proses penguraian dalam suatu unit biogas. Untuk itu, saat menyiapkan bahan baku untuk produksi biogas, bahan-bahan pengganggu seperti antibiotik, desinfektan dan logam berat harus diperhatikan saksama. Gas metan hasil fermentasi ini akan menyumbang nilai kalor yang dikandung biogas, besarnya antara 590 – 700 K.Kal per kubik. Sumber utama nilai kalor biogas berasal dari gas metan itu, plus sedikit dari H2 serta CO. Sedang karbon dioksida dan gas nitrogen tidak memiliki konstribusi dalam soal nilai panas tadi. Sementara dalam hal tingkat nilai kalor yang dimiliki, biogas punya keunggulan yang signifikan ketimbang sumber energi lainnya, seperti coalgas (586 K.cal/m3) ataupun watergas (302 K.cal/m3). Nilai kalor biogas itu kalah oleh gas alam (967 K.cal/m3). Bahkan, menurut D. Wibowo dalam paper-nya Gas Bio Sebagai Suatu Sumber Energi Alternatif, setiap kubik biogas setara dengan setengah kilogram gas alam cair (liquid petroleum gases), setengah liter bensin dan setengah liter minyak diesel. Biogas pun sanggup membangkitkan tenaga listrik sebesar 1,25 – 1,50 kilo watt hour (kWh). Dari nilai kalor yang dikandung, biogas mampu dijadikan sumber energi dalam beberapa kegiatan sehari-hari. Mulai dari memasak, pengeringan, penerangan hingga pekerjaan yang membutuhkan pemanasan (pengelasan). Selain itu, biogas juga bisa dipakai sebagai bahan bakar untuk menggerakkan motor. Untuk keperluan ini, biogas sebelumnya harus dibersihkan dari kemungkinan adanya gas H2S karena gas tersebut bisa menyebabkan korosi. Agar tak timbul gas yang baunya seperti kentut itu, kita mesti melewatkan biogas pada ferri oksida. Nantinya ferri oksida inilah yang akan mengikat (gas) H2S tadi. Bila biogas digunakan sebagai bahan bakar motor maka diperlukan sedikit modifikasi pada sistem karburator. Hasil kerja motor dengan bahan bakar biogas ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti pembangkit tenaga listrik, pompa air dan lainnya. Selain itu, biogas juga bisa dipadukan dengan sistem produksi lain.
B. Pembuatan Biogas dari Sampah Organik Sisa Sayuran
Tujuan penelitian ini adalah membuat biogas dari sampah organik sisa sayuran, dengan menggunakan bio-reaktor hasil rancangan penelitian. Bahan baku yang digunakan, yaitu sampah organik sisa sayuran, diambil dari salah satu pasar tradisional di kota Palembang, yang merupakan bahan buangan dan bahan yang tidak termanfaatkan. Biogas ini dibuat melalui proses fermentasi antara sampah organik dan campuran air beserta limbah tahu dan bakteri EM4 dengan perbandingan komposisi 1:1. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh waktu fermentasi terhadap biogas yang dihasilkan, sehingga dapat diketahui waktu yang optimum untuk menghasilkan biogas dari sampah organik. Pada penelitian ini, data temperatur dan pH diamati setiap harinya selama 2 minggu. Dimana didapat temperatur yang paling optimum untuk menghasilkan biogas sebesar 31oC dan nilai pHnya berkisar antara 6,3-5,8. Sedangkan untuk biogasnya, yang telah dianalisa dengan menggunakan alat Orsat dan Chromatografi Gas, biogas yang paling optimum dihasilkan pada hari ke-12 dengan konsentrasi metana (CH4) sebesar 19,59% dan konsentrasi karbondioksida (CO2) sebesar 8,6 %. Hasil tersebut, tidaklah memenuhi untuk uji nyala. Dikarenakan biogas dapat menyala, jika terdapat kandungan metana sebesar 60-70%.

C. Biomass - Strategi Total Jepang
Pada tahun 2002, di Jepang, telah dicanangkan “biomass - strategi total Jepang” sebagai kebijakan negara. Sebagai salah satu teknologi pemanfaatan biomass sumber daya alam dapat diperbaharui yang dikembangkan di bawah moto bendera ini, dikenal teknologi fermentasi gas metana. Sampah dapur serta air seni, serta isi septic tank diolah dengan fermentasi gas metana dan diambil biomassnya untuk menghasilkan listrik, lebih lanjut panas yang ditimbulkan juga turut dimanfaatkan. Sedangkan residunya dapat digunakan untuk pembuatan kompos. Karena sampah dapur mengandung air 70 – 80 %, sebelum dibakar, kandungan air tersebut perlu diuapkan. Di sini, dengan pembagian berdasarkan sumber penghasil sampah dapur serta fermentasi gas metana, dapat dihasilkan sumber energi baru dan ditingkatkan efisiensi termal secara total.

(1) Jenis serta Struktur Tempat Pembuangan Akhir

Untuk tempat pembuangan akhir, metode penempatannya diatur menurut undang-undang pengolahan sampah, dan dibagi menjadi tempat pembuangan tipe aman, tempat pembuangan terkontrol, tempat pembuangan terisolasi. Mengenai penerimaan sampah umum ditangani oleh tempat pembuangan terkontrol. Penimbunan memanfaatkan reaksi penguraian senyawa organic oleh mikroba yang hidup di dalam tanah. Karena pada saat penimbunan akan dihasilkan gas dapat terbakar seperti gas metana, disiapkan tabung tahan gas untuk mencegah terjadinya kebakaran atau ledakan.

(2) Teknologi Pengolahan Air Rembesan

Pada saat dilakukan penimbunan, kualitas air rembesan (lindih) sangat dipengaruhi oleh karakteristik sampah yang ditimbun, skala tanah timbunan, kedalamannya, kondisi iklim, konstruksi timbunan dan sebagainya. Memang ini merupakan pengolahan yang disesuaikan dengan standar kapasitas buangan yang mengikuti lokasi, tetapi proses awal/ penyesuaian, proses biologi dan proses kimiawi menjadi bagian utama dalam pengolahan lindih yang dihasilkan, yang setelah diolah dikirim ke lokasi penimbunan.


Teknologi pengolahan sampah telah diperkenalkan dengan menitikberatkan pada teknologi pembakaran yang paling banyak diadopsi. Teknologi pengolahan sampah, merupakan teknologi yang keberadaannya dirasakan mutlak untuk menjaga agar lingkungan hidup lebih baik, dengan mengolah sampah yang dihasilkan dari rumah tangga serta dari aktivitas industri. Rencana ke depan, ingin mengembangkan teknologi pengolahan sampah yang dengan itu dapat menekan konsumsi sumber daya alam serta meringankan beban lingkungan.

DISADUR DARI : http://methanefermentation.blogspot.com/2011/03/methane-fermentation.html

Kamis, 13 Oktober 2011

ANCAMAN KRISIS PANGAN AKIBAT PERUBAHAN IKLIM (DAPATKAH DIHINDARI?)

Pemberitaan tentang krisis pangan global mendominasi  berita di sejumlah media masa nasional maupun international di akhir 2010 ini. Suatu isu yang kembali menghangat setelah pernah mencuat ke publik global sekitar dua tahun yang lalu. Kali ini pemicu ancaman kekurangan pangan tidak lagi karena kebijakan subsitusi komoditi pangan untuk tujuan biofuel, tapi karena keadaan iklim khususnya curah hujan global yang tidak menentu. Kedua faktor pemicu sebenarnya memiliki sumber masalah yang sama yaitu masalah pemanasan global (global warming).
Kita boleh membaca bahwa satu sumber masalah (global warming) mendeterminasi dua faktor pemicu untuk menghasilkan satu dampak besar ancaman suplai pangan global.  Dan kenyataan ini boleh dipahami bahwa masalah pemanasalan global dapat saja mendeterminasi sejumlah faktor pemicu yang kemudian akan berdampak terhadap kelangsungan hidup umat manusia di jagad ini.  
Isu kelangkaan pangan hanya salah satu isu yang sedang menghantui umat manusia, tapi akan ada sejumlah isu lainnya yang akan muncul untuk mengganggu dominasi manusia terhadap makluk hidup lain di planet ini.
Ancaman kelangkaan suplai pangan sebenarnya bukan ancaman baru bagi manusia.  Terhitung sejak Mathus mengeluarkan teorinya tentang pertambahan deret hitung (produksi pangan) dan deret ukur (pertumbuhan penduduk) pada tahun 1798, umat manusia sudah diperingati agar perlu mengantisipasi ketidak seimbangan antara suplai dan deman akan pangan. Cuma bedanya teori Malthus menelurkan faktor penentu kelangkaan suplai pangan adalah manusia, sehingga manusia memerlukan kearifan untuk mengelolanya. Dan terbukti bahwa manusia mampu untuk mengelola ancaman dimaksud dengan melakukan sejumlah rekayasa yang melipatgandakan produksi pangan dunia.  Teori Malthus kemudian untuk sementara dianggap gugur.  Pemerintah disejumlah negara, khususnya negara-negara maju mampu mematahkan teori Malthus melalui kebijakan produksi pangan yang tepat (termasuk Indonesia dengan program Intensifikasi dan Ekstensifikasi pertanian di akhir dekade 1970an). Keberhasilan pelipatgandaan produksi pangan pada tiga dekade terakhir tidak lepas dari adanya komitmen yang kuat dari pemerintah berbagai negara untuk meningkatkan produksi pangan disamping adanya daya tarik pasar komoditi pangan.  Pangan adalah suatu komoditi primer sehingga suplai nya relatif akan selalu direspon oleh pasar (global).  masalahnya akan muncul saat komoditi primer ini dipakai untuk tujuan sekunder bahkan tersier seperti yang terjadi dua tahun lalu dan memicu ancaman kelangkaan suplai pangan.
Mari kita periksa ancaman kelangkaan suplai pangan saat ini. Sekali lagi pemicu kelangkaan pangan saat ini adalah masalah anomali iklim yang mendeterminasi kegagalan produksi pangan di sejumlah negara produsen pangan utama.
Sebut saja Rusia mengalami kekeringan hebat sehingga mempengaruhi kemampuan produksi pangannya. Sampai-sampai pemerintah Rusia terpaksa menutup keran ekspornya guna mengantisipasi pemenuhan permintaan pangan dalam negerinya. Sebaliknya China malah mengalami bencana banjir yang mengagalkan produksi pangan tahun ini. Dengan jumlah penduduk yang demikian besarnya, terpaksa China harus menambah volume impor pangannya, juga untuk mengantisipasi permintaan dalam negerinya.  Kebijakan yang di luar kelaziman kedua negara ini saja mampu mengganggu keseimbangan suplai dan demand pangan global.  Jadinya semua negara, termasuk negara-negara kecil  melakukan ancang-ancang kebijakan keamanan pangan yang sama. Suplai pangan global terganggu dan dampak nya  inflasi dan ancaman krisis pangan global.

Pergeseran Dimensi Krisis
Ada hal menarik dari isu krisis pangan kali ini.  Faktor pemicunya bukan saja akibat tekanan penduduk dan juga buka saja karena masalah pemanasan global.  Tapi malah terjadi kombinasi tekanan antara kedua faktor dimaksud dan memberikan tenanan baru dengan format yang lebih kompleks.  Cara menggantisipasinya juga tidak bisa lagi berupa kebijakan berdimensi tunggal seperti kebijakan pelipatgandaan produksi pangan yang terjadi dalam tiga dasawarsa terakhir. Sudah diperlukan adanya pendekatan kebijakan yang lebih kompleks dengan mempertimbangan faktor tekanan penduduk dan anomali iklim akibat pemansan global. Ini baru kombinasi dua faktor dengan tekanan yang lebih berat.  Dapat diibayangkan bagaimana rumitnya pemerintah berbagai negara di dunia harus melakukan format ulang kebijakan keamanan pangannya jika yang menjadi determinan faktornya adalah kombinasi dari tiga atau lebih faktor. Sebut saja bagaimana kalau ditambah dengan faktor krisis energi, faktor kelangkaan erable land, faktor munculnya sejumlah besar konsumen klas menengah dengan konsumsi tinggi, faktor peperangan (terorisme), dsb.
Saya percaya sejumlah negara di dunia sudah melakukan ancang-ancang antisipasi krisis pangan jilid berikut nya.  Sejumlah negara Eropa dan Amerika sudah mengantisipasi nya dengan kebijakan biofuelnya, ditambah dengan upaya menimbun stok pangan dalam negerinya bahkan untuk beberapa tahun ke depan. China sudah lama menerapkan kebijakan satu anak dan sejauh ini tergolong berhasil. Disamping itu China saat ini juga dikenal sebagai salah satu negara lumbung pangan dunia. Israel telah lama menerapkan praktek pertanian dengan sistem pemanfaatan air yang sangat efisien bahkan pemanfaatan potensi air laut dan berhasil melakukan ekspor pangan.  Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Ancangan Kebijakan
Alih-alih mengantisipasi ancaman krisis pangan berdimensi kompleks dengan kebijakan yang tepat. Keberhasilan menekan pertambahan penduduk melalui program KB saat ini hanya meninggalkan cerita indah bagi gerenasi baru.  Ikut-ikutan mengagas pemanfaatan energi alternatif sejauh ini belum ada cerita keberhasilan yang menarik untuk didengar. Yang terakhir, saat menghadapi ancaman krisis pangan global kali ini pemerintah Indonesia menanggapi nya dengan menyatakan bahwa Indonesia berada dalam keadaan aman dilihat dari cadangan pangan nasional.  Walaupun keadaan aman dimaksud hanya mampu bertahan untuk paling lama 6 bulan ke depan dengan cadangan pangan sekitar 1.4 juta ton.
Pertanyaannya adalah apa sampai di situ saja ancangan kebijakan pangan kita untuk mengantisipasi persoalan yang berdimensi jangka panjang? Atau kalau dibalik, maka pertanyaannya adalah bagaimana strategi keamanan pangan kita dalam menghadapi perubahan-perubahan di tingkat global, di saat banyak negara lainnya sudah jauh hari memiliki ancangan kebijakan keamanan pangan?. Kebijakan yang dikemukakan oleh pemerintah dalam menghadapi ancaman krisis pangan kali ini juga harus diakui tidak cukup strategis dalam jangka pendek.
Memang pemerintah sedang mengembangkan program extensifikasi tanaman pangan secara besar-besaran, khususnya di Merauke dan daerah potensil lainnya. Pengembangan kawasan pangan dalam skala luas atau food estate di Kabupaten Merauke, Papua diperkirakan memerlukan investasi sekitar Rp50 triliun hingga Rp60 triliun dengan luas potensil sekitar 200.000 hektare dan tambahan produksi padi (beras) mencapai satu juta ton  Tapi sebagaimana dijelaskan di atas, ancangan kebijakan keamanan pangan tidak bisa hanya berdimensi tunggal, apa lagi itu ditangani secara sektoral.  Kita memerlukan adanya suatu ancangan kebijakan yang lebih komprehensif guna  mengatasi isu ancaman krisis pangan yang juga berdimensi jamak.
(Penulis Prof. Ir. Fred L. Benu, MSi., Ph.D., adalah gurubesar ekonomi produksi pada Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Undana. Artikel ini sebelumnya dipublikasikan di blog : http://drylandagriculture.blogspot.com/2010/10/mengapa-akhir-akhir-ini-para-petani.html)
DISADUR DARI :
http://www.undana.ac.id/Institutes/index.php/in/news-and-events/51-kekurangan-pangan-

Selasa, 11 Oktober 2011

MEMBUAT PAKAN IKAN DENGAN TEHNIK SILASE (FERMENTASI HIJAUAN)

Peluang Usaha Pakan Ikan Buatan (bagian 1)

Peluang usaha dalam dunia perikanan seakan tidak ada habisnya untuk terus digali dan dikembangkan potensinya. Dari hasil tangkapan ikan yang didapatkan, proses budidaya, termasuk didalamnya kebutuhan pakan ikan. Jika dalam artikel sebelumnya kita membahas secara global mengenai pakan ikan, kali ini kita akan bahas lebih dalam lagi mengenai pakan ikan buatan sebagai sebuah peluang usaha. Pada bagian ini dijelaskan macam bahan yang bisa digunakan sebagai bahan pembuatan pakan ikan berikut cara pembuatan serta kandungan gizinya. Dengan ketersediaan bahan yang cukup melimpah dengan harga relatif murah, proses pembuatan yang cukup mudah serta daya serap pasar yang cukup tinggi, menjadikan usaha pakan ikan buatan sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Ada berbagai macam bahan yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan pakan ikan buatan. Secara umum dibagi menjadi : bahan hewani (berasal dari hewan) serta bahan nabati (berasal dari tumbuh-tumbuhan. Disamping bahan baku utama pada umumnya diberikan bahan tambahan yang diperlukan sebagai penyempurna pakan buatan tersebut, diantaranya sebagai perasa dan bahan perekat. Secara detai akan dijelaskan sebagai berikut :

BAHAN HEWANI

A. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%.
Kandungan gizi:
Protein : 22,65%;
Lemak : 15,38%;
Abu : 26,65%;
Serat : 1,80%;
Air : 10,72%;
Nilai ubah : 1,5-3
Cara pembuatannya:
1. Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.
2. Air perasan ditampung untuk dibuat petis/diambil minyaknya.
3. Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.
B. Tepung Rebon dan Benawa
Rebon adalah sejenis udang kecil yang merupakan bahan baku pembuatan terasi. Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan Benawa muncul pada awal musim hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda yang terapung.
Cara pembuatan:
· Bahan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas
· Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.
Kandungan gizi:
Protein: Udang rebon : 59,4% (udang rebon), 23,38% (benawa);
Lemak : 3,6% (Udang rebon), 25,33% (Benawa);
Karbohidrat : 3,2% (Udang rebon), 0,06% (benawa);
Abu : 11,41% (Benawa);
Serat : 11,82% (Benawa);
Air : 21,6% (Udang rebon); 5,43% Benawa ,
Nilai ubah Benawa : 4-6
C. Tepung Kepala Udang
Bahan yang digunakan adalah kepala udang, limbah pada proses pengolahan udang untuk ekspor.
Cara pembuatannya:
· Bahan direbus, dijemur sampai kering dan digiling;
· Tepung diayak untuk membuang bagian-bagian yang kasar dan banyak mengandung kitin.
Kandungan gizinya:
Protein : 53,74%;
Lemak : 6,65%;
Karbohidrat : 0%;
Abu : 7,72%;
Serat kasar : 14,61%;
Air : 17,28%.
D. Tepung Anak Ayam
Bahan: anak ayam jantan dari perusahaan pembibitan ayam petelur.
Cara pembuatan:
· Anak-anak ayam dimatikan secara masal, bulu-bulunya dibakar dengan lampu semprot. Kemudian direbus sampai kaku (setengah masak).
· Diangin-anginkan sampai kering dan digiling beberapa kali sampai halus. Hasil gilingan yang masih basah disebut pasta dan dapat langsung digunakan.
· Pasta dapat dikeringkan dan digiling menjadi tepung.
Kandungan gizinya:
Protein : 1,65%,
Lemak : 7,30%,
Abu : 2,34%,
Air : 8,80%,
Nilai ubah : 5-8.
Juga mengandung hormon, enzim, vitamin, dan mineral yang dapat merangsang nafsu makan dan pertumbuhan.
E. Tepung Kepompong Ulat Sutra
Bahan: kepompong ulat sutra yang merupakan limbah industri pemintalan benang sutra alam.
Kandungan gizinya:
Protein : 46,74%,
Lemak : 29,75%,
Abu : 4,86%,
Serat : 8,89%,
Air : 9,76%,
Nilai ubah : 1,8.
F. Ampas Minyak Hati Ikan
Bahan: ampas hati ikan yang telah diperas minyaknya.
Cara pembuatannya:
· Digunakan sebagai pasta, karena kandungan lemaknya tinggi, sehingga sukar dikeringkan.
· Digiling halus sampai bentuknya seperti pellet.
Kandungan gizinya:
Protein : 25,08%,
Lemak : 56,75%,
Abu : 6,60%,
Air : 12,06%,
Nilai ubah : 8.
G. Tepung Darah
Bahan: darah, limbah dari rumah pemotongan ternak.
Cara pembuatannya:
darah beku yang masih mentah dimasak dan dikeringkan, kemudian digiling menjadi tepung.
Kandungan gizinya:
Protein : 71,45%,
Lemak : 0,42%,
Karbohidrat : 13,12%,
Abu : 5,45%,
Serat : 7,95%,
Air : 5,19.
Proteinnya sukar dicerna, sehingga penggunaannya untuk ikan < 3% dan untuk udang < 5%.
H. Silase Ikan
Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.
Bahan: ikan rucah dan limbah pengolahan.
Cara pembuatan :
1. Bahan dicuci, dicincang kecil-kecil, kemudian digiling. Hasil gilingan direndam dalam larutan asam formiat 3% 24 jam, kemudian diperas.
2. Air perasan ditampung dan lapisan minyak yang mengapung di lapisan atas disingkirkan. Cairan yang bebas minyak dicampur dengan ampas dan ditambah asam propionat 1%, untuk mencegah tumbuhnya bakteri/cendawan dan menambah daya awet ± 3 bulan dengan pH ± 4,5. (4) Bahan diperam selama 4 hari dan diaduk 3- 4 kali sehari
3. Bahan cair yang bersifat asam dapat dicampur dengan dedak, ketela pohon/tepung jagung dengan perbandingan 1:1, dikeringkan dan digunakan untuk campuran dalam ramuan makanan.
Kandungan gizinya:
Protein : 18-20%,
Lemak : 1-2%,
Abu : 4-6%,
Air : 70 – 75%,
Kapur : 1-3%,
Fosfor : 0,3-0,9%.
I. Arang Bulu Ayam dan Tepung Tulang
Bahan: arang bulu ayam, tulang ternak.
Cara pembuatan:
Tulang dipotong sepanjang 5-10 cm, direbus selama 2-4 jam dengan suhu 100 derajat C, kemudian dihancurkan hingga menjadi serpihan-serpihan sepanjang 1-3 cm. Serpihan tulang direndam dalam air kapur 10% selama 4-5 minggu dan dicuci dengan air tawar. Pemisahan selatin dengan jalan pemanasan 3 tahap, yaitu pada suhu 60 derajat C selama 4 jam, suhu 70 derajat C selama 4 jam, dan 100 derajat C selama 5 jam. Pemrosesan selatin. Tulang dikeringkan pada suhu 100 derajat C, sampai kadar airnya tinggal 5% dan digiling hingga menjadi tepung. Pengemasan dan penyimpanan.
Kandungan gizinya:
Protein : 25,54%,
Lemak : 3,80%,
Abu : 61,60%,
Serat : 1,80%,
Air : 5,52%.
J. Tepung Bekicot
Bahan: daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus.
Cara pembuatan:
Daging bekicot dikeringkan lalu digiling. Untuk campuran makanan sebesar 5-15%.
Kandungan gizi:
Protein : 54,29%,
Lemak : 4,18%,
Karbohidrat : 30,45%,
Abu : 4,07%,
Kapur : 8,3%,
Fosfor : 20,3%,
Air : 7,01.
K. Tepung Cacing Tanah
Dapat menggantikan tepung ikan, dapat diternak secara masal.
Jumlah penggunaan dalam ramuan 10-25%.
Cara pembuatan: Cacing dikeringkan lalu digiling.
Kandungan proteinnya 72% dan mudah diserap dinding usus.
L. Tepung Artemia
Dapat menggantikan tepung ikan/kepala udang.
Kandungan protein (asam amino essensial) untuk burayak 42% dan dewasa 60%, sedangkan asam lemak tak jenuh untuk burayak 20% dan dewasa 10%. Daya cernanya tinggi.
M. Telur Ayam dan Itik
Bahan: telur mentah atau telur rebus.
Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai membentuk emulsi atau suspensi.
Kandungan gizinya:
Protein : 12,8%,
Lemak : 11,5%,
Karbohidrat : 0,7%,
Air : 74%.
N. Susu
Bahan: tepung susu tak berlemak (skim).
Kandungan gizi:
Protein : 35,6%
Lemak : 1,0%
Karbohidrat : 52,0%,
Air : 3,5%
BAHAN NABATI
A. Dedak
Bahan : dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras.
Kandungan gizi:
Protein : 11,35%
Lemak : 12,15%,
Karbohidrat : 28,62%,
Abu : 10,5%,
Serat kasar : 24,46%,
Air : 10,15%,
Nilai ubah : 8.
B. Dedak Gandum
Bahan: hasil samping perusahaan tepung terigu. Tepung yang paling baik untuk pakan ikan adalah “wheat pollard” dengan
Kandungan gizi :
Protein : 11,99%,
Lemak : 1,48%,
Karbohidrat : 64,75%,
Abu : 0,64%,
Serat kasar : 3,75%,
Air=17,35%,
Nilai ubah : 2-3.
C. Jagung
Terdapat 2 jenis, yaitu:
1. Jagung kuning, mengandung protein dan energi tinggi, daya lekatnya rendah;
2. Jagung putih, mengandung protein dan enrgi rendah, daya lekatnya tinggi. Sukar dicerna ikan, sehingga jarang digunakan.
D. Cantel/Sorgum
Berwarna merah, putih, kecoklatan. Warna putih lebih banyak digunakan. Mempunyai zat tanin yang dapat menghambat pertumbuhan, sehingga harus ditambah metionin/penyosohan yang lebih baik.
Kandungan gizi:
Protein : 13,0%,
Lemak : 2,05%,
Karbohidra : 47,85%,
Abu : 12,6%,
Serat kasa : 13,5%,
Air : 10,64%,
Nilai ubah : 2-5.
E. Tepung Terigu
Berasal dari biji gandum, berfungsi sebagai bahan perekat.
Kandungan gizi:
Protein : 8,9%;
Lemak : 1,3%;
Karbohidrat : 77,3%;
Abu : 0,06%;
Air : 13,25%.
F. Tepung Kedele
Keuntungan : mengandung lisin asam amino essensial yang paling essensial dan aroma makanan lebih sedap, penggunaannya ± 10%.
Kekurangan: mengandung zat yang dapat menghambat enzim tripsin,dapat dikendalikan dengan cara memasak.
Kandungan gizi:
Protein : 39,6%,
Lemak : 14,3%,
Karbohidrat : 29,5%,
Abu : 5,4%,
Serat : 2,8%,
Air : 8,4%,
Nilai ubah : 3-5.
G. Tepung Ampas Tahu
Kandungan gizinya:
Protein : 23,55%,
Lemak : 5,54%,
Karbohidrat : 26,92%,
Abu : 17,03%,
Serat kasar : 16,53%,
Air : 10,43%.
H. Tepung Bungkil Kacang Tanah
Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang.
Kelemahannya: dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya.
Kandungan gizi:
Protein : 47,9%,
Lemak :10,9%,
Karbohidrat : 25,0%,
Abu : 4,8%,
Serat kasar : 3,6%,
Air : 7,8%,
Nilai ubah : 2,7-4.
I. Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan dapat dipakai sampai 20%.
Kandungan gizi :
Protein : 17,09%,
Lemak : 9,44%,
Karbohidrat : 23,77%,
Abu : 5,92%,
Serat kasar : 30,4%,
Air : 13,35%.
J. Biji Kapuk/Randu
Bahan: bungkil kapuk yang telah diambil minyaknya.
Kelemahannya: Mengandung zat siklo-propenoid yang bersifat bius. Penggunaannya < 5%. Kandungan gizinya:
Protein : 27,4%,
Lemak : 5,6%,
Karbohidrat : 18,6%,
Abu : 7,3%,
Serat kasa : 25,3%,
Air : 6,1 %.
K. Biji Kapas
Bahan: bungkil dari pembuatan minyak. Kelemahannya: mengandung zat gosipol yang bersifat sebagai racun, yaitu merusak hati dan perdarahan/pembengkakan jaringan tubuh. Untuk penggunaannya harus dimasak dulu.
Kandungan gizi:
Protein : 19,4%,
Lemak : 19,5%,
Asam lemak linoleat : 47,8%,
Asam lemak palmitat : 23,4%,
Asam lemak oleat : 22,9%.
L. Tepung Daun Turi
Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein, dan alkoloid-alkoloid lainnya.
Kandungan gizinya:
Protein : 27,54%,
Lemak : 4,73%,
Karbohidrat : 21,30%,
Abu : 20,45%,
Serat kasar : 14,01%,
Air : 11,97 %.
M. Tepung Daun Lamtoro
Kelemahannya: mengandung mimosin, dalam pemakaiannya < 5% saja.
Kandungan gizinya:
Protein : 36,82%, Lemak : 5,4%,
Karbohidrat : 16,08%,
Abu : 1,31%,
Serat kasar : 18,14%,
Air : 8,8%.
N. Tepung Daun Ketela Pohon
Kelemahannya: racun HCN/asam biru.
Kandungan gizi:
Protein=34,21%,
Lemak : 4,6%,
Karbohidrat : 14,69%,
Air : 0,12.
O. Isi Perut Besar Hewan Memamah biak
Bahan: dari rumah pemotongan ternak.
Cara pembuatan: dikeringkan, digiling sampai menjadi tepung.
Kandungan gizinya:
Protein : 8,39%,
Lemak : 5,54%,
Karbohidrat : 33,51%,
Abu : 17,32%,
Serat kasar : 20,34%,
Air : 14,9%,
Nilai ubah : 2.
BAHAN TAMBAHAN
A. Vitamin dan Mineral
1. Cara memperoleh: dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang sudah dikemas dalam bentuk premiks (premix).
2. Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino tertentu.
3. Contoh-contoh merek dagang:
· Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), 2 asam amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT)
· Rhodiamix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), asam amino essensia metionin, dan 8 mineral (Mg, Fe, Mo, Ca, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan.
· Mineral B12: mengandung tepung tulang, CaCO3 , FeSO4 , MnSO4 , KI, CuSO4 , dan ZnCO3 , serta vitamin B12 (sianokobalamin).
· Merek lain: Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer Premix B.
4. Penggunaannya : Untuk ikan 1-2% dan untuk udang 10-15%.
A. Garam Dapur (NaCl)
1. Fungsi: sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya proses pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan.
2. Penggunaannya cukup 2%.
Bahan Perekat
1. Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu, dll. Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka.
2. Penggunaannya cukup 10%.
Antioksidan
1. Bahan: fenol, vitamin E, vitamin C, etoksikulin (1,2dihydro-6-etoksi-2,2,4 trimethyquinoline), BHT (butylated hydroxytoluena), dan BHA (butylated hydroxyanisole).
2. Penggunaannya: etoksikulin 150 ppm, BHT dan BHA 200 ppm.
Ragi dan Ampas Bir
1. Ragi adalah sejenis cendawan yang dapat merubah karbohidrat menjadi alkohol dan CO2.
2. Macam ragi: ragi tape, ragi roti, dan bir.
3. Kandungan gizi:
Protein : 59,2%,
Lemak : 0,
Karbohidrat : 38,93%,
Abu : 4,95%,
Serat kasar : 0,
Air : 6,12%.
4. Ampas bir merupakan limbah pengolahan bir.
5. Kandungan gizinya: Protein=25,9%, Serat kasar=15%
6. Penggunaannya: ampas bir basah 3-6% dan kering 10%.

EASYHITS4U

Link akun paypal Untuk transaksi bisnis anda yang lebih mudah

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

PINGLER.COM